Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Sunday, 13 May 2018

Simmat Ilmu Mantiq

Yang dimaksud dengan Simmat di sini adalah pengenalan terhadap alasan penamaan sebuah ilmu. Mengapa ilmu ini dinamakan ilmu mantiq ? Kata "Mantiq" memiliki dasar kata "Nutq" yang secara bahasa memiliki arti berbicara dan secara majazi diartikan sumber dari pembicaraan, yaitu tafakkur (refleksi) dan ta`aqul (rasional). 

Akan tetapi harus diketahui bahwa yang dimaksud dengan "Nutq" dalam ilmu mantiq adalah makna majazi yang berpikir dan pembicaraan batin. 

Dari sisi bahasa Arab, kata "Mantiq" adalah mashdar mimi yang berarti berbicara (menurut arti bahasa) dan berpikir (menurut arti majazi). Atau ia sebagai isim makan (isim yang menunjukan tempat) yang berarti tempat berbicara (menurut arti bahasa) dan tempat berpikir (menurut arti majazi). 

Ilmu ini dinamakan ilmu Mantiq, baik itu berupa sebuah mubhalaghah (hiperbolis), jika bentuknya berupa "mashdar mimi" yang memiliki arti bahwa ilmu ini memiliki peran khusus dalam kemampuan manusia dalam berbicara dan kenyataannya demikian. Atau dari segi bahwa ilmu Mantiq adalah tempat muncul dan nampak pembicaraan dan pikiran manusia, ketika bentuknya berupa "isim makan".

Mantiq Takwini Dan Tadwini

Dalam bahasa Arab, Ilmu Logika disebut dengan ilmu Al Mantiq. 

Mantiq ini terdiri dari dua jenis, yaitu mantiq takwini dan tadwini. 

Mantiq tadwini adalah Hukum Akal Sehat yg dieksplisitkan, sebagaimana yg disusun oleh Aristoteles 350 SM. Tetapi mantiq takwini adalah hukum akal sehat yang ada sejak azali. Takwini dan tadwini ibarat kacang dan kulitnya. 

Ilmu Logika (Mantiq)

Suatu hari seorang pelajar agama (baca talabeh) melewati sebuah desa ( kata sebagian orang kalo sudah menjadi talabeh artinya dia sudah belajar segala macam ilmu dan di antara ilmu yang ia pelajari adalah ilmu logika yaitu ilmu mengasah otak, gunanya tentu untuk memudahkan cara berfikir).

Ketika itu ia melihat seorang petani sedang mengikat sapinya pada sebuah tiang kayu, yang merupakan tonggak penyambung untuk sebuah gilingan terbuat dari batu, dimana ketika diputar maka biji-bijian yang di taro di antara batu-batu itu akan menjadi tepung. Si talabeh kemudian melihat sesuatu yang melingkar pada leher sapi seperti gantungan bel sebagai kalung kalo kita biasa menyebutnya gandulan. 

Setelah mengucapkan salam Kemudian si talabeh ini bertanya kepada si petani; Wahai pak petani apa yang kamu taruh di leher sapi ini? 

Ia menjawab "Itu gandulan." 
Lalu si talabeh bertanya kembali "Untuk apa kau taruh gandulan itu di lehernya?" 
"Supaya dengan suara gandulan tersebut saya akan tahu jika ia berhenti berputar, maka saya akan memecutnya supaya ia bergerak dan berputar kembali," jawab si petani. 
Si talabeh mulai berfikir, kemudian mengutarakan maksudnya,"Pak petani bagaimana jika ia hanya mengeleng-gelengkan kepalanya supaya suaranya terdengar?"
Si petani,"Maaf nak sapi saya tidak belajar ilmu logika yang kemudian dia akan melakukan apa yang kamu katakan tadi."

================= 
"Jika gandulan berbunyi, maka sapi bergerak. Jika gandulan tidak berbunyi, berarti sapi tidak bergerak. Jika sapi bergerak, maka gandulan berbunyi, dan jika sapi tidak bergerak, maka gandulan tidak berbunyi. Dengan dengan jika dan hanya jika gandulan berbunyi, maka sapi bergerak". Inilah konsep dari petani dalam cerita tersebut. 
Bagaimana jika sapi tidak bergerak, tapi gandulan berbunyi ?
Jawabannya yang relevan, "berarti petani berbohong." 
Tapi faktanya "petani tidaklah berbohong"
maka (kesimpulannya) "tidaklah mungkin sapi tidak bergerak, sedangkan gandulan berbunyi."
Itulah contoh tanya jawab yang relevan.  Sedangkan jawaban petani yang ditunjukan oleh Haidar Yusuf itu adalah Fallacy, irrelevant Conclution, alias pertanyaan, argumen dengan jawaban itu tidak ada sangkut pautnya. Tidak ada hubungannya antara "sapi gak belajar ilmu logika" dengan kesimpulan "sapi tidak akan menggelengkan kepala".  Lalu, apakah jawaban seperti itu dapat kita anggap bagus dan benar ? 

Tulisan di atas menunjukan kelemahan ilmu mantiq atau menunjukan kesalahfahaman orang terhadap ilmu mantiq. Apakah pesan yang ingin disampaikan oleh si penulis adalah ketidakmampuan orang dalam menjawab pertanyaan logicer(lojiker;logiser) ataukah menggambarkan keisengan logicer dalam mengajukan pertanyaan ? Tentu si penulis sendiri yang mengetahui maksudnya. 

Gambaran yang dapat ditangkap dari tulisan di atas adalah bahwa logicer (ahli mantiq) gemar mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berguna. Apakah benar ? Tidak benar. Karena pertanyaan-pertanyaan tidak berguna, tidak hanya diajukan oleh seorang logicer, tetapi juga seringkali diajukan oleh siapapun, apapun bidang keahliannya. Bagaimana misalnya bila saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan, bagaimana bunyi tepukan sebelah tangan ? Di mana letak usus semut, pada bagian belakang perutnya atau bagian depannya ? Apakah cacing merasakan kesedihan, kegembiraan dan kegelisahan ? Apakah semua pertanyaan tersebut tidak berguna ? Ataukah kita tidak mengetahui kegunaannya ?

Di sisi lain, kita juga mengetahui bahwa ilmuwan telah menghitung diameter bumi, jarak antara bumi dan matahari, jumlah planet di tata surya, bahkan menghitung jumlah bintang yang terlihat di langit. Lalu, kalau kita pergi ke perpustakaan, kita dapat menemukan buku-buku yang berisi catatan ragam jenis cacing atau semut.  Ada ribuan jenis cacing, dan masing-masing cacing diidentifikasi jenisnya, tabiatnya dan cara hidupnya. Apakah itu sekedar keisengan dari ilmuwan atau ketidaktahuan kita mengenai manfaat semua data tersebut ? 
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top