Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Thursday, 10 May 2018

Siapa Menanam Ia Akan Menuai

Seorang tuan tanah sedang berjalan menyusuri pasar bersama anak lelakinya. Ia adalah orang terkaya di kampung itu. Ketika sang tuan tanah lewat di depan sebuah toko parfum, ia diam sejenak.

"Anakku, entah mengapa Ayah merasa marah sekali memandangi toko ini. Padahal Ayah tidak pernah masuk sekalipun ke toko ini. Sudahlah, mungkin hanya perasaaan Ayah saja!"

Si anak penasaran dengan ucapan ayahnya tersebut. Keesokan harinya ia berbicara dengan pemilik toko. Tidak ada seorangpun pembeli di sana.

"Mengapa toko Bapak sepi sekali seperti ini?"

"Entahlah," matanya menatap kosong sambil menghela napas ia melanjutkan, 

"Sudah satu bulan tidak ada orang membeli parfum. Aku sampai melamun seandainya tuan tanah di kampung ini meninggal dunia, pasti parfumku diborong oleh keluarganya. Karena kebiasaan orang-orang kaya adalah memberi hadiah parfum saat belasungkawa."

Ucapan ini membuatnya terkejut. Anak lelaki itu berusaha menyembunyikan perasaannya. Ia berpikir keras mendengar hal ini. 

Kemudian ia membeli sebotol parfum yang paling mahal di toko itu. Saat tiba di rumah, parfum itu diberikan kepada ayahnya,

"Tadi aku lewat di depan toko parfum yang Ayah ceritakan kemarin, entah mengapa pemilik tokonya memanggilku dan menitipkan hadiah ini untuk Ayah."

"Harum sekali parfum ini, pasti ia orang baik. Mengapa Ayah justru marah tanpa alasan kepadanya. Tolong engkau sampaikan padanya salam dari Ayah dan bawalah uang ini sebagai hadiah untuknya."

Rupanya sang tuan tanah merasa bersalah sehingga ia menitipkan sejumlah uang yang banyak sekali. Tentu saja anak lelakinya itu segera berlari. Tak sabar rasanya untuk menyampaikan berita gembira itu.

"Uang ini cukup untuk menutup kerugianku selama satu bulan!" Si pemilik toko terkejut bahagia, 

"Rupanya tuan tanah itu seorang dermawan. Aku menyesal mengapa justru mengharapkan ia meninggal dunia demi keuntungan pribadiku. Aku doakan semoga ia panjang umur dan selalu bahagia."

* * *

Demikianlah, sebuah kisah yang saya adaptasi dari cerita rakyat di India. Kisah yang menunjukkan bahwa apa yang dirasakan orang lain kepada kita tidak lain adalah cerminan apa yang kita rasakan kepada mereka.

Karena manusia hakikatnya adalah satu, sama, dan terhubung. Saat kita memperbaiki prasangka kepada sesama manusia, maka sangka baik itu akan kembali kepada diri kita sendiri.

Begitupula seperti disebutkan dalam hadist Rasulullah, saat mendoakan saudara-saudara kita, maka doa itu akan kembali kepada diri kita sendiri.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top