Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Wednesday, 16 May 2018

Obat Jemu

"Bosan nih... Kita cari tempat lain yuk!" kata Usman.

"He.. He.. Man.. Usman, kamu tu yah, kok mudah bosan gitu. Kita dari tadi sudah pindah-pindah tempat, baru berdiam sebentar, kamu merasa bosan dan pengen cari tempat lain. Sedangkan saya, di sini atau di sana, merasa nyaman dan gak bosan." kata saya pada Usman. Tapi saya ikuti juga dia pergi menuju tempat lain yang dia pikir bisa mengusir kejenuhannya. 

Saya mengerti si Usman kawan saya yang tampan itu sukanya cewek-cewek cantik. (Siapa juga yang gak suka cewek cantik, he..he.. ) maksud saya, dia akan merasa jemu kalau gak duduk-duduk ngobrol bareng sama cewek-cewek cantik. Kalau saja di sini ada cewek yang nememin ngobrol, si Usman bakalan betah duduk berjam-jam. 

Dunia ini begitu menakjubkan, begitu banyak hal yang mempesona, tapi bagi seorang pemuda yang sedang patah hati,  dunia ini terlihat seperti hancur berantakan. Lalu, dia tidak.dapat melihat apapun yang indah. Si Usman memang tidak sedang patah hati, tapi dia sedang kasmaran pada seorang gadis bernama Jelita. Karenanya,  obrolannya gak jauh-jauh dari soal Jelita. Makin diomongin, dia makin gelisah, suasana selalu tak nyaman, karena di situ tak ada Jelita. 

Kami duduk bersama di sebuah pos ronda. Saya bersila dan menikmati suasana. Semilir angin sepoi-sepoi yang meniup dedaunan, cukup bagi saya untuk dapat merasakan keindahan alam. Dan walaupun kiri kanan, pandangan mata dibatasi oleh tembok, namun imajinasi saya dapat berkelana ke ujung dunia. Tembok tidak dapat membatasi jiwa saya yang bebas, karena itu walaupun duduk di tempat yang sempit ini, karena jiwa yang lapang, maka keindahan semesta terlihat.

"Bagaimana kalau kita ke perpustakaan, Man ?" usul saya.

"Ayo.. " Usman bersemangat.

Kami pergi ke perpustakaan. Di sana, saya mengambil sebuah buku filsafat, Capita Selecta, Penebit Driyarkara. Saya membacanya, dan terus membacanya. Sejenak melirik ke bangku Usman,"Ya ampun Man, sudah banyak amat buku yang kamu baca. Ini saya, satu aja belum selesai."

"Ah.. Iya... Gak ada yang menarik." jawab Usman. Saya perhatikan dia mengambil beberapa buku, hanya dilihat satu dua halaman lalu dia tinggalkan untuk mencari buku yang lain. 

Setelah setumpuk buku dia baca, lalu dia menjatuhkan badannya ke meja baca, dan memejamkan mata. "Bosan nih.. Kita cari tempat lain yuk !"

"Tunggu dong, saya tanggung nih.. Lagi asyik baca." jawab saya.

Sudah gak sabar, kayak cacing kepanasan, jalan mondar mandir, duduk berdiri dan berjalan lagi dan bawel,"Ayuk dong Sep,.. Kita pergi. Kita maen aja ke rumah Kartika."

Saya tidak menggubris dia, berhubung sedang asyik baca tentang filsafat Tao Te Cing. Eh.. Tiba-tiba Usman merebut buku saya, menutupnya dan menyimpannya di meja,"ayuk... Nanti keburu sore !" ajak Usman.

Di dalam angkot menuju rumah Kartika, saya berkata,"Man.. Susah amat sih kamu mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Kamu terus moving begini cari sesuatu. Setelah sekian bulan kita gak ketemu, apa tidak cukup pertemuan ini menyenangkan bagimu ?"

Setengah senyum Usman menjawab,"seneng sih.. Tapi kurang asyik kalau maen di perpustakaan aja."

"Lha.. Tadi di perpustakaan ada banyak buku, apa gak asyik?" tanya saya

"Ah.. Saya ke sini tuh lagi liburan, jadi butuh hiburan. Kalau baca buku mah capek, bukannya asyik." jawab Usman. 

Itu adalah kisah sewaktu saya masih SMA. Bertahun tahun kemudian, setelah saya memiliki anak yang kedua, saya teringat kembali pada sahabat saya, Usman yang mudah bosan dan gelisah, karena melihat si Kecil, anak saya itu juga sering mengeluh bosan. Terutama ketika dia sendirian di rumah. Keluhan anak saya itu yang mengingatkan saya pada Usman. 

"Nak.. Kalau bosan, obatnya adalah baca buku " ujar saya pada anak.

"Tapi yah..semua buku dan majalah juga sudah aku baca." jawab anak.

"Kalau begitu, menulis saja." saran saya.

Lalu saya mengajari si kecil menulis cerpen. Mulai saat itu, si kecil sering menulis cerpen. 

"Nanti kalau sudah banyak, kita jadikan buku." janji saya pada anak. 

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ayahnya gemar bikin cerpen, anaknya pun diajari. Bapaknya menjadikan kegiatan menulis sebagai obat jemu, kejemuan anaknya pun diobati dengan cerpen. Cerpen dapat menghibur pembaca, tapi yang lebih penting dapat menghibur diri sendiri. Pembaca tidak akan merasa terhibur oleh sebuah cerpen , sebelum cerpen itu menghibur pengarangnya sendiri. 

Selain itu, makna lain dari menulis cerpen adalah kita merenungi kehidupan dan belajar dari pengalaman. Tubuh saya, pandangan mata saya dibatasi oleh tembok kamar. Jika hanya memandangi tembok saja, tentu saya merasa bosan. Tapi imajinasi saya tidak dapat dibatasi oleh tembok yang berdiri kokoh, dia dapat pergi jauh ke masa lalu yang indah, atau berkelena ke berbagai penjuru semesta, membuat hidup terasa penuh warna.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top