Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Friday, 18 May 2018

Menangkal Faham Radikal

Banyak orang yang gigih berjuang, memperjuangkan hidupnya kekuatan cinta kasih di tengah masyarakat. Tapi para pejuang yang berhati mulia ini, tidak sebanyak jumlah zombie-zombie penebar virus radikalisme. 

Cinta kasih, seiring dengan kebijaksanaan, lahir dari pengetahuan yang benar serta kemampuan berpikir logis. Tidak mudah orang untuk mencapai derajat yang mulia ini. Sementara untuk kebencian, tidak perlu banyak modal harus dikeluarkan. Cukup menjadi orang gila, tukang hasut dan provokasi, maka dapat dipastikan mendapatkan banyak pengikut. Karena untuk ikut membenci tidak harus sepandai orang yang mencinta. 

Jangan berdiri di hadapan seorang radikal untuk menghadangnya serta menempatkan diri Anda sebagai musuhnya. Karena musuh, adalah santapan empuk mereka. Apabila mereka kehilangan musuh, maka hidup mereka akan kehilangan makna. Mereka akan menjadi gila bila tidak mendapatkan musuh. Bila kita mundur beberapa langkah, tidak menempatkan diri sebagai musuh mereka ataupun kawan mereka, maka mereka satu sama lain akan melihatnya sebagai musuh dan lalu saling menghajar. Lalu kita dapat datang untuk memberi perlindungan, dengan memberi petunjuk ke jalan yang benar untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. 

Hal yang menyedihkan kita semua, mereka telah menyerang orang-orang yang tak bersalah, yang tidak tahu menahu sama sekali tentang apa mau mereka dan sama sekali tidak pernah mengerti, mengapa mereka harus menjadi korban. Serangan kekerasan seperti itu bisa menimpa siapa saja, termasuk saya ataupun Anda. Namun tak ada yang bisa kita lakukan atas semua kecemasan ini, kecuali berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan penguasa alam, selebihnya mencoba untuk melupakan dan bertawakal. Di sisi lain, hal dapat terlihat seperti sikap tak peduli. 

Bagaimana kita akan dapat menangkal radikalisme di tengah masyarakat yang lebih tertarik pada radikalisme dari pada logikaisme. Di grup-grup diskusi, kalau ada topik-topik tentang radikalisme, topik ramai ditanggapi, tapi kalau topik-topik yang membahas tentang logika, sangat sepi tanggapan. Kalau bahas matematika, semua diam seribu bahasa. Mendadak semua orang bilang "nilai matematika saya di sekolah jelek". Kalau bahas agama, semua orang terlihat sebagai masternya agama. Kalau ada hal-hal salah, sangat cepat kritikannya, tapi kalau ada hal-hal benar, lupa untuk mengapresiasi. Ada berita buruk, semua orang bagai lalat mengeremuni tahi kebo, tertarik sangat. Kalau ada berita baik, orang-orang terlihat tidak peduli. Banyak orang hampir lupa dengan yang namanya bahasa mendukung, dan tahu nya hanya bahasa menentang. Karena itu, mereka tidak eksis, kecuali untuk menentang. 

Dengan mengamati pola orang-orang dalam berdiskusi, karakteristik keteetarikan banyak orang terhadap informasi, maka lahirlah dari situ suatu kesimpulan bahwa datang dan berkembangnya arus radikalisme tidak akan dapat dibendung, karena budaya kita sendiri yang telah membuka pintu lebar-lebar terhadap masuknya radikalisme tersebut. 

Walaupun demikian, tidak berarti kita harus berputus asa. Seandainya kita mau belajar dan dapat menjaga diri sendiri sehingga tidak terkontaminasi oleh faham radikal, maka setidaknya satu orang teroris telah berkurang, atau jumlah teroris tidak bertambah. Tidak banyak yang dapat kita harapkan untuk dapat mengubah keyakinan orang lain, karena kita tidak memiliki kontrol atas tubuh dan pikiran orang lain. Karena itu, jangan tanya bagaimana cara mengubah keyakinan seorang radikal, tapi tanyalah bagaimana cara mengubah akhlak kita agar menjadi lebih baik setiap harinya. Bila kita berperilaku baik, keindahannya akan terlihat oleh orang lain, bahkan orang yang berhati keras jadi luluh, seorang yang berjiwa radikal menjadi berjiwa lembut. 

Bagaimana kiranya orang yang berhati keras menjadi lunak, bila kita menunjukan hati yang keras pula padanya ? Bagaimana kita akan dapat mengajarkan tentang cinta, bila tatap mata kita sudah menunjukan rasa tak suka ? Tidak perlu mengajari, apalagi ingin mengubah keyakinan orang lain. Kita dapat mulai dari diri sendiri dan biarkan orang lain mengerti dengan melihat bukan hanya dengan mendengar apa yang kita katakan.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top