Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Tuesday, 1 May 2018

Bungkam

"Lidah tak bertulang", karena itu orang dapat mengatakan apapun yang mau dia katakan. Dan ada juga peribahasa " dia pandai bersilat lidah". Tetapi kedua peribahasa terkait lidah tersebut berkonotasi negatif. Yang pertama berkonotasi "suka ngomong seenaknya" dan yang kedua berkonotasi pada makna "suka membolak-balik kata". 

Bungkamnya seseorang di hadapan kita, tidak selalu berarti dia kalah atau argumen kita menang di atas argumen orang lain. Bisa jadi, dia menanggap bahwa kita terlalu bodoh, susah diajak bicara, susah mengerti apa yang dia katakan, tidak tahu lagi cara membuat kita mengerti atau memang sudah gak mau menolong kita untuk mengerti. 

Untuk mengerti diri sendiri, kadang memang kita butuh cermin. Suatu saat saya berdebat dengan orang yang perangainya sangat mirip dengan saya, bagaikan terong dibelah dua atau bagaikan berhadap-hadapan dengan cermin, sama-sama egois, sama sama sombong, sama-sama keras , sama sama tukang bolak-balik kata, sama-sama banyak omong dan sama-sama maunya menang sendiri. Sampai akhirnya saya berhenti bicara karena menanggap dia terlalu bodoh untuk mengerti.

Usai berdebat dengannya, saya termenung sambil tersenyum, karena merasa kesal sekaligus geli, serasa berdebat dengan diri sendiri saja. Melihat cerminan diri persis ada pada dirinya. Saya menganggap perilaku dia itu begitu menyebalkan, sangat buruk, dan sangat berharap tak berjumpa dengannya lagi seumur hidup. Tapi itu berarti menilai diri saya sendiri seburuk itu. Pada saat itulah saya menyadari bahwa selama ini saya terlihat seburuk itu di hadapan orang lain.

Ingatan saya kembali kepada seorang sahabat. Beliau selalu bicara dengan penuh hiasan senyum, selalu memuji lawan bicara dengan tulus mengenai apa-apa yang memang terpuji. Sangat jarang orang mau mengatakan hal-hal terpuji pada orang yang menyangkal pendapatnya. Beliau rendah hati dan selalu menghormati lawan debatnya, kata-katanya menyenangkan dan sering diselingi humor, terlihat santai tapi. pada akhirnya dapat memberikan pencerahan yang berharga. 

Gaya debat saya fokus pada "mematahkan argumen" orang lain, tanpa sedikitpun peduli bahwa hati orang akan patah bersama patahnya argumen. Tapi sahabat saya, gaya debatnya fokus pada "membuat mengerti dan menerima". Dia begitu berhati-hati dan menjaga perasaan orang lain, seperti menggendong bayi yang baru lahir, begitu hati-hati dan waspada. Dia berkata ," Kita patahkan argumen orang lain, patah pula hatinya dan lalu dia lari dari kita. Bukan itu yang kita harapkan." Amatlah sulit bagi saya, meniru perangainya saat berdebat. 

Soal teknik mematahkan argumen, saya sudah cukup banyak belajar, apalagi soal mematahkan hati orang, tak perlu lagi belajar. Sejauh pengalaman saya, keterampilan mematahkan argumen orang lain dengan cara seperti itu tidak terlalu banyak gunanya, kecuali membuat diri saya merasa menang, membuat orang lain bungkam dan lalu menjauhi saya. Yang masih harus saya pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang rendah hati dan menyenangkan seperti sahabat saya. Dan itu lebih berat dari belajar seluruh teori ilmu logika. 

Membungkam mulut orang lain dengan aksi keras kepala dan permainan silat lidah adalah soal mudah, tapi sekaligus tidak berguna. Tapi bagaimana membantu orang lain mengerti, menerima dan mengikuti kebenaran itulah yang berguna. Karena itu hal ini dapat diawali dengan prinsip "berikan ilmu pada yang membutuhkan". Semangat bicara kita perlu dimaknai sebagai usaha sungguh-sungguh untuk membantu orang lain, untuk menjawab pertanyaan yang jawabannya dia butuhkan. Karena itu, jika semangat lawan bicara kita hanyalah berdebat, bersilat lidah, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya jawabannya tidak dia butuhkan, hanya diajukan untuk membingungkan dirinya sendiri, maka lebih baik kita bungkam saja. Biarkan kita dianggap kalah dan biarkan dia merasa menang. Debat hanya untuk merasa menang kalah itu adalah perilaku anak kecil memalukan. Kita orang dewasa harus menunjukan kedewasaan, bila harus berdebat perlu ada urgensinya dan tetap berlandas kepada rasa hormat dan kasih sayang
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top