Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Tuesday, 8 May 2018

Bukan Berarti Tak Salah

Kisah tentang dua kelompok sahabat yang berbeda, bahkan bertentangan pendapat dalam menafsirkan perintah Rasulullah ? Apakah bisa dibenarkan keduanya ? 

Sekelompok sahabat Nabi saw hendak berangkat menuju Bani Quraidzah.  Sebelum berangkat, nabi saw berberpesan, agar mereka tidak shalat sebelum sampai di Bani Quraidzah. Tetapi, hari sudah terlampau sore sebelum sampai di Bani Quraidzah. Para sahabat berselisih pendapat. Sebagian orang berkeyakinan bahwa shalat harus dilaksanakan, walaupun belum sampai di Bani Quraidzah. Karena mereka yakin bahwa nabi saw tidak ingin mereka meninggalkan shalat. Akan tetapi, sebagian sahabat lain bersikukuh untuk tidak melaksanakan shalat, sebelum sampai di Bani Quraidzah, seperti pesan nabi. Akhirnya semua berpegang pada pendapat masing-masing. Yang yakin harus segera shalat, mereka shalat sebelum di Bani Quraidzah, dan yang lainnya tidak shalat. 

Setelah nabi saw mengetahui perihal tersebut, maka nabi saw tidak menyalahkan keduanya.  Jadi, apakah dua-duanya benar ? 

Mari kita tinjau berdasarkan kaidah logika dan fiqih. 

Pertama-tama, menurut kaidah logika, dua hal yang kontradiksi, mustahil sama-sama benar. 

A) para Sahabat harus shalat sebelum sampai di Bani Quraidzah
E) para Sahabat tidak harus shalat sebelum sampai di Bani Quraidzah

atau

A) para Sahabat boleh shalat sebelum sampai di Bani Quraidzah
E) para Sahabat tidak boleh shalat sebelum sampai di Bani Quraidzah

Itu adalah kontrari, bila yang A benar, maka pasti E salah. Jika nabi tidak menyalahkan keputusan sahabat, maka bukan berarti keputusan itu tidak salah, melainkan bisa jadi karena kesalahan itu dimaafkan, atau kesalahan yang terjadi karena lupa atau tidak tahu tidak dihukumi dosa. Soal dimaafkan atau tak dosa, itu memasuki wilayah fiqih atau aqidah. Tetapi jelas dari sisi logika, adalah mustahil dua-duanya benar.

Jadi, bagaimana menurut kaidah fiqih ?

Suatu instruksi berasal dari konsep disampaikan melalui sarana bahasa. Adapun yang namanya bahasa, tidak dapat menggambarkan sepenuhnya konsep yang ada di dalam pikiran. Bahasa selalu menjadi bagian terkecil dari konsep. Artinya, apa yang dinyatakan selalu lebih sedikit dari konsep yang ada di pikiran. Dari bahasa itu kita berusaha memahami konsep. Akan tetapi, karena keterbatasan bahasa, maka bahasa itu bagaikan potongan-potongan puzzle, untuk memahami konsepnya secara utuh, seringkali kalimat-kailmatnya perlu dikoleksi lebih banyak dan dilengkapi. Hanya saja, manusia yang memahami ini juga memiliki kemampuan mengerti secara batin, bukan hanya melalui bahasa. Karena itu, diantara para sahabat nabi saw, tidak mustahil ada yang mengerti maksud nabi saw yang sebenarnya. 

1. Jika belum sampai di Bani Quraidzah, maka tidak boleh shalat, walaupun hari telah sore, bahkan walaupun sudah melewati maghrib. 
2. Jika  belum sampai di Bani Quraidzah dan Hari belum terlampau sore, maka janganlah shalat terlebih dahulu. Tapi bila sudah terlampau sore, maka shalatlah, walaupun belum sampai di Bani Quraidzah. Tidak boleh sampai waktu magrib tiba, dan shalat ashar belum dilaksanakan. 

Mana maksud nabi saw yang sebenarnya ? Apa mungkin kedua-duanya merupakan maksud dari perintah nabi saw ? Tidak mungkin. 

Katanya, "Nabi saw tidak menyalahkan pertentangan pendapat antara para sahabat", tapi adakah diantara para sahabat nabi saw yang menanyakan, mana maksud nabi saw yang sesungguhnya ?
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top