Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Tuesday, 3 April 2018

Persoalan Kesurupan Antara Psikologi dan Mistik

Soal kesurupan, hampir selalu psikolog melihatnya dari sudut pandang psikologi dan mistikus memandang nya dari sudut pandang mistik. Tentu saja, masing-masing orang akan lebih memandang sesuatu dari sudut pandang keahlian nya masing-masing.

Walaupun demikian, hampir semua ahli mistik mengatakan bahwa persoalan utama dari masalah kesurupan adalah masalah psikologis. Adapun masalah yang merupakan gangguan mistik hampir selalu merupakan efek samping dari "kerusakan psikologis" pada diri seseorang. Artinya, pada tubuh yang sehat, jiwa yang sehat, sangat kecil kemungkinannya seseorang mengalami kesurupan.

Sebagai Krachtolog sudah sangat sering menghadapi kasus orang kesurupan. Kemudian setelah ditelusuri, maka banyak di antara mereka berasal dari keluarga yang kacau (broken home) akibat kasus perceraian, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, narkoba dan kemiskinan.  Masalah-masalah seperti ini kemudian menimbulkan beban psikologis yang berat pada seseorang, sehingga mengacaukan pikiran dan akhirnya keadaan itu dimanfaatkan oleh setan.

Orang dengan pikiran yang kacau, seperti masuk ke dalam hutan belantara yang penuh dengan hewan-hewan buas berbahaya. Kalau masuk ke sarang ular, besar kemungkinannya kena gigitan ular. Kalau masuk ke komunitas harimau.lapar, kemungkinan orang itu menjadi santapannya. Demikian pula, pikiran yang penuh dengan kegelisahan, kesedihan dan kebencian, akan menjadi santapan para setan.

Walaupun kebanyakan kasus kesurupan yang saya hadapi berawal dari problem psikologi, namun pada beberapa kasus, orang kesurupan tidak terindentifikasi sedang menghadapi masalah psikologis yang berat. Beberapa kasus kesurupan terjadi pada salah seorang keluarga baik-baik saja, namun orang tersebut menganut ilmu hitam atau menempuh jalan sesat dalam dunia mistik, dan ada juga malah yang dengan sengaja bersekutu dengan iblis. Dan sebagian lagi, karena pengaruh guna-guna.

Apapun latar belakang masalahnya, psikologis atau bukan, orang kesurupan itu butuh penanganan. Saya sendiri sudah bosan dan mulai enggan mengurus orang kesurupan. Jadi, kalau ada orang kesurupan saya akan cenderung mengabaikan nya. Apalagi kalau sudah ditangani oleh seseorang yang tampaknya ahli atau merasa ahli untuk menanganinya. Selama ada yang mengurus, biarlah diurus orang lain saja. Bukannya enggan menolong, tapi ketika menangani orang kesurupan, itu seringkali akhirnya saya terlibat terlalu jauh dalam masalah mereka. Ini merupakan hal yang bukan saja tidak menguntungkan dari sudut pandang keluarga saya, namun seringkali menjadi sesuatu yang terlampau menyusahkan.

Contohnya, dua tahun lebih saya dan keluarga menghadapi masalah berat, karena setan yang merasuki tubuh seseorang ingin membalas dendam terhadap saya, setelah saya berhasil melepaskan seseorang dari cengkraman nya. Saya juga berkali-kali hampir kehilangan nyawa karena menghadapi guna-guna yang terlampau kuat.

Bukan hanya terlibat dalam masalah-masalah mistik, tapi juga seringkali terlibat dalam masalah-masalah psikologis. Jika kasus kesurupan seseorang akibat masalah psikologis, maka penyembuhan nya pun perlu melalui pendekatan psikologis. Contohnya, saya pernah membantu seorang anak gadis bernama Misha, yang seringkali kesurupan. Walaupun setiap kali kesurupan dapat saya sadarkan, namun kasusnya selalu terulang kembali. Lagi-lagi dia kesurupan, sampai saya bosan menolongnya. Ketika saya selidiki, ternyata itu masalah broken home. Ayah ibunya setiap hari bertengkar, bertengkar dan bertengkar. Tentu saja anak-anaknya jadi stress berat. Mischa, Anak yang malang, karena tidak cukup memperoleh perhatian ayah ibunya. Karena itu Mischa sering berpura-pura kesurupan, untuk mendapatkan perhatian. Ini masalah psikologis.

Masalah psikologis, perlu diatasi dengan pendekatan psikologis juga. Karena itu, saya berupaya mengajaknya berbicara, memberi perhatian pada masalah-masalah yang dia hadapi. Saya mencoba mengajari dia bagaimana mestinya bersikap, berperilaku sehari-hari, agar hidup tenang, nyaman dan bahag
ia. Ini tidak mudah. Membantu Misha untuk menjadi pribadi yang tenang seperti mencoba menjinakkan kuda liar. Sayapun harus sangat berhati-hati dalam berkata-kata, karena tersinggung sedikit saja, Mischa dapat menumpahkan kemarahannya dalam tindakan yang aneh-aneh.

Akhirnya setelah enam bulan, dia tidak lagi bertingkah seperti kesurupan. Dia lebih tenang dan dapat menjalani hidup lebih baik. Namun masalah baru muncul. Yaitu, saya sulit menyapih dia dari saya. Dia merasa nyaman untuk terus bercerita kepada saya, setiap kali dia menghadapi masalah-masalah baru dalam hidupnya. Dia seolah mendapatkan perhatian ayah, yang selama ini tidak dia dapatkan. Masalah baru ini, bukan pula masalah yang mudah untuk dihadapi. Saya jadi berlarut-larut mengurusi anak orang lain, sampai merasa waktu yang semestinya menjadi hak anak-anak saya, terenggut komitmen saya untuk membantu orang lain. 

Tidak ingin hak-hak keluarga sendiri terenggut orang lain, saya secara perlahan mulai menjauhi Misha. Dia tahu bahwa saya menjauhinya, sehingga merasa sedih kecewa, dan hampir membuat semua usaha saya sia-sia dengan cara Misha kembali ke perangainya yang lama. Bahkan Misha sempat membenci dan memusuhi saya. Namun akhirnya Misha menyadari, bahwa tidak ada hal yang dapat dia pegang erat-erat. Semua kembali harus dilepaskan. Walaupun berat, dan hampir tidak kuat,  tapi kini Misha berhasil mengatasinya.

Untunglah Misha dapat berubah menjadi gadis yang lebih baik. Lain lagi dengan Reihan, pemuda yang memiliki permasalahan yang serupa dengan Misha. Namun saya memutuskan berhenti membantu nya. Karena setelah enam bulan saya membantu dia dengan mengorbankan waktu dan tenaga saya, namun dia dengan tega melakukan serangan fisik kepada saya secara brutal. Dia pura-pura kesurupan dan lalu menyerang saya. Saya hanya menghindar atau menangkis, tidak berani membalas karena khawatir dia celaka.

Setelah Reihan dapat dilumpuhkan, saya berpikir bahwa melanjutkan membantunya terlalu beresiko. Kalau sudah melakukan serangan fisik, tentu saya harus melindungi diri. Dan ada kalanya, untuk melindungi diri, saya terpaksa harus melukai orang lain. Akhirnyapun saya tetap akan dipersalahkan. hal seperti itu akan berbuntut panjang. Karena itu, saya kembalikan dia kepada orang tuanya, dan menyatakan bahwa saya tidak sanggup lagi untuk membantu nya.

Contoh-contoh di atas merupakan gambaran, bagaimana beratnya membantu seseorang dalam persolan kesurupan yang dilatar belakangi dengan masalah Psikologi, sehingga membuat saya membuat saya sekarang bersikap acuh tak acuh pada masalah orang-orang kesurupan.

Demikian pula, menghadapi persoalan Kesurupan yang murni merupakan kasus mistik, tidak kalah berat resikonya. Akan tetapi, pesan yang ingin saya sampaikan di sini bukan saja soal beratnya menghadapi kasus-kasus kesurupan, tetapi memberikan gambaran bahwa latar belakang masalah psikologi maupun mistik, keduanya butuh penanganan yang tepat dan gambaran bagaimana seorang terapis kemudian dapat terlibat jauh ke dalam masalah-masalah tersebut
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top