Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Wednesday, 25 April 2018

Penyimpangan Ajaran Ketenangan

Rumusan Masalah :
Sebagian orang hidup dengan mengejar-ngejar ketenangan mental, menjadikan ketenangan mental sebagai tujuan dalam hidup. Ini adalah cara hidup yang salah yang pada akhirnya menimbulkan masalah pada dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. 

Tujuan :
Memahami ketenangan mental sebagai sarana dan mengetahui cara bijaksana menggunakan ketenangan tersebut.

Manusia hidup membutuhkan ketenangan mental, seperti hal nya juga manusia membutuhkan makanan. Namun, seringkali manusia itu mengambil lebih dari apa yang dibutuhkannya, dan bahkan mencoba mendapatkannya dengan cara yang salah. Demikian pula dalam hal ketenangan, ada orang yang mencari ketenangan lebih dari yang dibutuhkan, mencoba mendapatkannya dengan cara yang salah dan atau menggunakannya untuk hal-hal salah. Itu adalah penyimpangan dari ajaran ketenangan. 

Ketenangan mental diperlukan agar kita dapat berpikir, berkata dan berbuat benar. Jadi, ketenangan harus dilihat sebagai sarana, bukan tujuan. Sehingga apa bila tujuan sudah tercapai, maka sarana ketenangan tersebut tidak perlu lagi dipegang erat-erat. 

Seperti sarana perahu untuk menyeberang sungai, apabila sudah sampai di seberang, maka tinggalkan perahu. Jangan selamanya ingin duduk manis di perahu. Atau apabila melihat jembatan yang dapat digunakan lebih mudah untuk menyeberangi sungai, maka gunakan saja jembatan, jangan keinginannya melekat pada perahu. Demikian pula ketenangan, harus dilihat sebagai sarana untuk mencapai sesuatu, apabila sesuatu tercapai, maka ketenangan mental tidak perlu lagi dipegang erat-erat. Atau apabila dapat melihat jalan lain untuk sampai pada tujuan tanpa ketenangan, maka lakukan saja. 

Ada banyak cara seseorang mencapai ketenangan mental. Dari semua cara tersebut, dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu cara menenangkan mental dengan cara eksternal dan internal. Cara internal ini berarti menggunakan rekayasa mental. 

Rekayasa mental terbagi atas dua kelompok, yaitu cara yang benar dan salah. Contoh cara yang benar adalah melalui praktik dzikir, berfilsafat, istirahat/tidur, berpuasa, meditasi atau dengan pengembangan persepsi positif. Sedangkan cara yang salah contohnya menenangkan diri menggunakan obat-obatan terlarang. 

Kita ambil satu kasus saja, misalnya seseorang sudah memiliki keterampilan ketenangan melalui sarana meditasi, sehingga setiap waktu yang dia kehendaki dia dapat memasuki kondisi mental yang tenang dan nyaman. Namun yang namanya kondisi mental "tak ada yang kekal". Karena itu, setenang apapun batin seseorang, maka ia akan mengalami perubahan dan tidak dapst bertahan dalam kondisi yang sama. Apalagi ketika dia kembali kepada kehidupan yang nyata, maka dia akan melihat dan merasakan bahwa dalam kehidupan ini ada begitu banyak tekanan dan hal-hal yang tak menyenangkan. Meditator yang terbiasa hidup dalam kenyamanan meditatif tadi dapat menolak kondisi kehidupan tak nyaman tadi, kembali ke dalam persemediannya. Jika keadaan demikian terus berulang, maka semakin lama meditator tadi akan semakin menolak kehidupan, cenderung menarik diri dari lingkungan dan tenggelam dalam ketenangan-ketenangan hasil dari rekayasa mental tadi. Inilah penyimpangan ajaran ketenangan yang harus dihindari oleh para meditator. Akan tetapi, penyimpangan seperti ini tidak hanya terjadi pada meditator melainkan juga pada para pelajar dan kaum intelektual. Kasus meditator ini hanyalah salah satu contoh kasus saja. Pada intinya, meditator atau bukan, siapapun bisa memiliki kecenderungan untuk hidup dengan mengejar-ngejar ketenangan mental dan menjadikannya sebagai tujuan. Hal itu karena ketidaktahuan atau karena menganut ajaran-ajaran yang menyimpang.

Saya menyampaikan semua ini berdasarkan pengalaman pribadi. Bahwa sebagai meditator, saya pernah terbuai dalam ketenangan-ketenangan meditatif, berpikir bahwa ketenangan batin itulah hal yang paling berharga dalam hidup dsn patut untuk diupayakan. Apalagi rekayasa mental melalui meditatif itu bukan saja dapat membentuk ketenangan batin, tetapi juga melahirkan

Kekuatan-kekuatan supranatural yang mengagumkan bagi si meditator itu sendiri.  Hal itu membuat saya semakin tenggelam dalam keasyikan-keasyikan spiritual, sampai guru saya mengetahui keadaan saya dan menegur,"Tahukah kamu, apa hakikat yang kamu lakukan itu ? Tak lain, kamu hanyalah mengejar kesenangan bagi dirimu sendiri saja." Saya terkejut, karena mengira bahwa saya telah melakukan semuanya dengan benar, dan pencapaian ketenangan mental yang mendalam itu adalah pencapaian yang luar biasa, tapi ternyata anggapan saya salah. Beruntunglah saya, karena memiliki guru pembimbing yang menyeret kembali diri saya dari jalan yang salah ke jalan yang benar.

Meditasi adalah sarana untuk ketenangan mental, tapi bukan tempat untuk pelarian dari masalah hidup, bukan pula untuk membuai dan meninabobokan diri kita dalam kenyamanan-kenyamanan. Ketika batin seseorang terlalu gelisah, atau dikuasai oleh amarah, maka dia cenderung melakukan kesalahan dalam perkataan dan perbuatannya. Karena itu, untuk mengalahkan kekuatan yang mendorong nya pada perbuatan salah, orang tersebut membutuhkan alat untuk menjadi tenang. Ada banyak alat, ambil salah satu contohnya meditasi. Orang dapat menggunakan meditasi sebagai alat mencapai ketenangan tersebut.tapi dia jangan pernah lupa pada tujuan yang sebenarnya, bahwa ketenangan yang hendak diraihnya adalah untuk menghancurkan hambatan dalam bertindak benar. Karena itu, bila hamabtan sudah tak ditemukan atau dapat secara langsung menghadapi hamabatan tersebut, maka langsung saja bertindak tanpa harus menunggu batin menjadi tenang terlebih dahulu. Dengan kata lain, selama kita dapst berkata benar, bertindak benar, maka bentuk-bentuk ketenangan mental nyaris tidak kita perlukan.

Saya telah digugat oleh salah seorang murid, dia menuduh saya telah mengajarkan meditasi ketenangan yang membuat dia terbuai dalam ketenangan-ketenangan tersebut, kehilangan rasa tanggungjawab terhadap keluarga, nyaris dingin terhadap lawan jenis dan membuatnya cenderung menarik diri dari kehidupan. Itu adalah tuduhan yang menyakitkan bagi seorang guru. Faktanya, dia baru sedikit belajar dan saya belum selesai mengajar, namun dia sudah lari dengan kesimpulan-kesimpulannya yang terlalu cepat. Karena sebelum ini, dia cenderung orsng yang menderita dengan berbagai kegelisahannya tentang hidup. Saya mengajarkannya cara menenangkan diri. Karena dengsn keadaan batin yang terlalu gelisah, dia sulit menyerap apa yang akan saya ajarkan selanjutnya. Tapi setelah dia menjadi terampil menenangkan diri, dia menuduh ketenangan itulah yang menjadi masalah dalam hidupnya. Ini aneh bin ajaib. Sebenarnya yang jadi masalah adalah dia belajar tak tuntas, dan berhenti pada sesi tak menyenangkan. 

Meditasi juga bukan suatu alat yang membuat kita mati rasa, sehingga menjalani hidup tanpa emosi. Kemarahan, kesedihan, rasa tersinggung, kegelisahan, kekecewaan dan sebagainya bukanlah hal tercela. Manusia bijaksana bukanlah orang yang tak pernah marah, gelisah ataupun sedih, melainkan yang dapat mengendalikan dirinya serta menggunakan kemarahan dan kesedihan sesuai pada tempatnya sehingga berdayanguna. 

Saya telah belajar dari istri saya sendiri, dia tak tahu apapun soal teknik menenangkan diri. Dia terkadang mengalami kesedihan dan kegelisahan. Namun semua perasaan-perasaan itu tidak dapat menghambatnya untuk menjalankan semua kewajiban dalam hidupnya. Itu berarti dia lebih tangguh dari meditator yang gemar sembunyi dalam persemediannya, ketika mendapat tekanan tak menyenangkan dalam kehidupan. Walau demikian, menarik diri dari suatu lingkungan untuk mempersiapkan ketenangan, itu lebih baik dari pada cenderung destruktif terhadap diri dan lingkungannya akibat mental yang kurang seimbang.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top