Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Saturday, 28 April 2018

Memurnikan Perbuatan

Hidup itu berbuat. Dengan berbuat, maka kita hidup. Karena itu, tak ada seorangpun yang hidup, kecuali dia berbuat. Semua makhluk hidup, karena terbawa oleh sifat hidup itu sendiri, niscaya dia berbuat. 

Karena itu, sebagaimana hidup membutuhkan makna, maka perbuatan juga membutuhkan makna. Tetapi masing-masing orang memaknai perbuatannya dengan secara berbeda. 

Apa maknanya menikah ? Ada yang memaknainya sebagai pemenuhan kebutuhan biologis, perwujudan kasih sayang, ikatan kesepakatan atau ada juga yang memaknainya sebagai ibadah atau mengikuti sunnah rasulullah saw. 

Apa maknanya makan ? Ada yang memaknainya untuk menjaga kelangsungan hidup, sebagai obat, untuk menghilangkan rasa lapar, ada juga yang sekedar pemenuhan kewajiban dan ada juga yang bermakna usaha memuaskan diri dengan rasa kesenangan. Bagaimana cara orang lain memberikan makna pada perbuatannya, kita tidak dapat mencampurinya. Namun, kita sendiri harus dapat memberikan makna yan benar menurut kita pada perbuatan kita sendiri. Jika tidak, maka di situ jiwa kita mengalami gangguan.

Perbedaan masing-masing orang dalam memaknai perbuatannya bergantung pada pengetahuan yang dan moralitasnya. Seseorang yang memberi makan anak yatim, dapat memaknai hal itu sebagai sedekah, lillahi ta'ala. Tetapi ada juga yang memaknainya sebagai usaha untuk mendapatkan keuntungan politik dan sebagainya. Kita dapat menilai bahwa yang satu memaknai perbuatannya dengan benar, dan lainnya memaknainya dengan salah. Walaupun salah memaknainya, tapi dia tidak kehilangan makna dari perbuatannya. Karena jiwanya tidak merasa terganggu. 

Berbeda makna tidak selalu kontradiksi. Misalnya dua orang yang bersedekah, orang kesatu memaknainya sebagai wujud belas kasih dan  orang kedua memaknainya sebagai wujud rasa tanggungjawab. Keduanya sama baiknya. 

Kita dapat mengajarkan makna-makna suatu perbuatan pada orang lain, tapi tidak dapat menyeret orang lain ke dalam makna perbuatan yang kita miliki. Karena makna itu dipilih masing-masing orang berdasarkan kecocokan, selain juga pengetahuan. Jadi, bila kita merasa cocok dengan ukuran  dan bentuk suatu baju, maka belum tentu itu cocok bagi orang lain. Demikian pula makna yang dipilih seseorang terhadap suatu perbuatan, juga berlandas pada kecocokan itu, terlepas dari soal benar-salahnya. 

Makna suatu perbuatan juga dapat berubah seiring berubahnya situasi kondisi. Sebagai contoh, suatu hari ada beberapa orang sedang mengangkat pot-pot bunga, menaikanya ke atas mobil. Mereka terlihat kesulitan mengangkat pot-pot besar. Saudara pun membantu mereka. Saya memaknai perbuatan saudara sebagai usaha untuk berbuat kebajikan. Tetapi, ketika membantu mereka saudara melihat gerak-gerik yang mencurigakan, sehingga muncul dugaan bahwa mereka sebenarnya para pencuri. Jika saudara terus membantu mereka, maka saudara akan kehilangan makna dari perbuatan saudara. Karena itu, saudara berhenti membantu mereka. Tapi karena tidak ada bukti bahwa mereka pencuri, maka saudara tidak dapat berbuat apapun. Hanya keesokan harinya, ada orang yang datang ke situ dan mencari-cari pot bunga yang hilang. Maka yakinlah bahwa orang yang saudara bantu kemarin adalah pencuri. 

Membantu orang adalah bermakna upaya menjalankan kebaikan. Tapi bila sudah menduga bahwa orang yang sedang dibantu adalah pencuri yang sedang mencuri, maka membantunya tidak lagi murni sebagai upaya menjalankan kebaikan. Ada keraguan, apakah mereka sedang melakukan kebaikan atau kejahatan, sehingga ragu pula apakah membantunya berarti bermakna kebajikan atau kejahatan, maka untuk memurnikan perbuatan, maka saudara memutuskan untuk berhenti membantunya.

Memurnikan perbuatan berarti menghilangkan segala sesuatu yang mengganggu makna dari perbuatan tersebut, sehingga berpotensi menyebabkan hilangnya makna tersebut dari perbuatan. 

Sebagian orang memaknai perbuatan sebagai "usaha mencari ridha Alloh". Tetapi kadang-kadang dia berbuat baik dan kadang berbuat buruk. Usaha dia mengurangi perbuatan buruk, adalah arti dari memurnikan perbuatannya. Kadang orang shalat, namun riya dengan shalatnya. Padahal sebelumnya dia telah bertekad bahwa makna bagi perbuatannya adalah mendapatkan ridha Alloh, maka usaha untuk tidak riya adalah arti dari memurnikan perbuatannya. 

Meditator menpunyai cara berbeda dalam memaknai perbuatannnya, bahwa perbuatan baginya merupakan landasan bagi konsentrasi dan menbangun kesadaran. Karena itu, apapun perbuatan yang tidak berkontribusi pada makna tersebut, maka itu tak murni. 

Seseorang pernah meminta saya untuk mengambil barang di luar kota. Saya menolaknya dengan alasan bahwa saya sedang tidak sehat dan butuh istirahat. Orang tersebut kurang senang dengan penolakan saya dan berkata," sebenarnya kamu mau atau gak mau bergantung pada upah. Seandainya upah yang saya janjikan adalah 10 kg emas, niscaya kamu akan segera pergi melakukan pekerjaan itu, walaupun kamu sedang meriang panas dingin."

Saya menjawab,"saya sangat heran dengan apa yang anda katakan, bagaimana anda bisa berpikir membeli kerelaan dan kehendak saya dengan 10 kg emas. Tadinya, besok saya akan segera melakukan pekerjaan itu, seandainyapun Anda hanya memberi sedikit upah atau bahkan tidak memberi upah sekalipun. Saya akan senang membantu Anda. Tapi sekarang, setelah semua yang anda katakan itu, saya tak akan melakukan pekerjaan itu, seandainya pun anda menjanjikan 1000 kg emas bagi saya." Karena yang saya butuhkan dari pekerjaan tersebut bukanlah upah, tapi makna. Bila upah itu sejalan dengan makna nya, maka upah itu bagian dari makna yang saya butuhkan. Tapi bila upah itu berlawanan dengan maknanya, maka sama sekali saya tidak menghendakinya. Karena saya tidak ingin kehilangan makna tersebut."

Saya berkata pada teman saya,"jika yang saya butuhkan hanya uang, maka saya tidak akan pergi bekerja. Dengan demikian, jika saya pergi bekerja, maka yang saya butuhkan bukan hanya uang." tapi pernyataan ini telah disalahtafsiri, sehingga saya dianggap menyatakan "tidak butuh uang", sebenarnya yang saya katakan adalah " gak butuh uang haram". Uang yang didapat dengan cara melakukan sesuatu yang berlawanan dengan makna perbuatan itu sendiri, maka itu adalah uang haram bagi saya. Makna perbuatan itu harus dipertahankan. Bila tidak, kita akan kehilangan arah tujuan dalam hidup ini.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top