Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Thursday, 5 April 2018

Dari Puing Yang Tersisa

Mimpi, tetapi rasanya seperti nyata.

Tahun 2072, usiaku tepat 94 tahun. Aku lelaki tua renta yang mengeluh,"aku sudah setua ini, mengapa kah belum juga mati ?"

Seorang gadis muda menjawab,"semua orang ada waktunya tersendiri Kek, kakek jangan bicara seperti itu. Aku akan selalu mengurus Kakek."

Aku mengusap kepala gadis itu dan berkata,"Kamu gadis yang baik. Bermainlah, pergilah, bersenang-senanglah seperti yang dilakukan gadis-gadis lain. Tidak kah kamu merasa jemu mengurus orang tua renta seperti ku ? Kakek tidak ingin menjadi beban mu."

Gadis itu menangis, ia menggenggam tanganku, air matanya membasahi semua jari tanganku. Dia berkata dengan terisak,"jangan bilang begitu Kek, aku sayang Kakek. Aku tidak jemu mengurus Kakek. Mohon maaf, apabila kami ada kelalaian. Tapi kami semua sayang Kakek."

Dua hari kemudian, pada Kamis malam, semua anak cucu berkumpul, aku berkata,"Sudah waktunya aku pergi, jangan kalian bersedih, tidak usah menangis, karena Aku sudah sangat merindukan nenek kalian. Dia sudah datang menjemputku, dengan senyuman dan wajah yang cantik. Aku akan pergi bersamanya, jagalah diri kalian. Ingatlah segala hal yang telah kuajarkan."

Jum'at pagi yang cerah, Aku dikebumikan, bulan September 2072. Akan tetapi aku sendiri dapat melihat, bagaimana tanah merah menutupi liang lahat, dirinci Isak tangis yang tertahan dan doa.

20 tahun kemudian, seseorang menemukan catatan harian ku, dari balik reruntuhan bangunan tua, di antara Puing-puing yang tersisa. Dia membacanya halaman demi halaman. Segala rahasia yang saat ini aku sembunyikan, terbongkarlah sudah. lalu dia mempublikasikan nya melalui jurnal yang dia buat. Jadilah ramai pemberitaan, di media cetak dan elektronik sehingga orang-orang mengenali aku, siapa namaku, siapa nama orang tuaku, anak turunku, hingga hobi dan kebiasaan sehari-hari ku. Lalu munculah seorang pemuda yang tertarik untuk meneruskan semangat perjuangan dan cita-citaku. Dia mewujudkan harapan yang tidak dapat kuraih seumur hidupku.

Tetapi amat disayangkan, pada tahun 3.000 negeri ini mengalami kekacauan yang menyedihkan. Aku melihat ada darah di mana-mana. Pertikaian politik telah melampaui batasnya, menimbulkan penderitaan pada rakyat. Anak-anak yatim berkeliara dan Para janda bertebaran.  sampai hari di mana langit berwarna merah di tengah siang bolong, menunjukan bahwa telah lahir kembali seorang pemimpin yang Arif dan bijaksana, yang akan memimpin negeri ini dan membawanya kepada kesejahteraan.

Aku terbangun dari mimpi dan tertegun. Benarkah mimpiku itu ? Ataukah ia memiliki tafsir lain ? Entahlah... Aku bukan ahli tafsir mimpi. Namun, jika benar mimpiku itu, maka amat beruntunglah aku karena usiaku bisa hingga setua itu. Padahal hidup penuh dengan ketidaktahuan dan ketidakpastian tentang hari esok, semua rahasia Tuhan. Kita tidak pernah tahu, akankah esok kita masih merasakan hangatnya sinar mentari pagi.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top