Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Friday, 6 April 2018

Bantuan Praktis Untuk Lupa

Tuhan menciptakan manusia dengan dibekali kemampuan untuk lupa. Jika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk lupa, dia akan hidup terus menerus dalam kesedihan. Dia tidak dapat melupakan bencana yang pernah dialaminya.

"Tak bisa lupa" itu adalah masalah serius yang dialami oleh sebagian orang. Seperti Seorang gadis remaja bernama AIDA, umurnya 19 tahun, dia berkeluh,"saya sampai kurus kering seperti ini karena selalu ingat dia (mantan pacarnya). Siang malam saya tidak dapat melupakan dia. Saya merasa sangat menderita." AIDA mendapat masalah serius dari "Tak Bisa Lupa".

Juga seorang karyawan yang murung selama berhari-hari, karena dituduh mencuri uang oleh atasannya. Walaupun ia tidak dilaporkan ke polisi karena tidak cukup bukti, namun nama baiknya telah tercemar. Ia menanggung malu dari perbuatan yang tak dilakukannya. Dia bersedih, mengapa atasannya begitu mudah menuduhnya tanpa bukti-bukti yang jelas. Karena itu selama berhari-hari dia kehilangan keceriaan, tak semangat bekerja.

Saya menegurnya,"Hai .. mengapa kau termenung saja. Mari kita bekerja !".

Dia menjawab,"Aku tidak semangat lagi bekerja. Saya sakit hati karena dituduh mencuri."

Saya katakan,"sudahlah, tidak usah kau pikirkan lagi. Lebih baik pikirkan masalah pekerjaan-pekerjaan ini".

Dia berkata,"Aku tak ingin memikirkannya. Tapi selalu terpikirkan."

Dia menghadapi masalah serius dari tak bisa lupa.

Saya tidak mau menjalani hidup seperti Aisa atau karyawan yang murung tadi. Karena itu, bila hati saya bersedih atas sikap "kurang ajar" seseorang, saya akan segera berpikir,"tak ada hal yang lebih menyakitkan, kecuali tak bisa lupa. Jika saya lupa, maka tak ada hal yang menyakitkan lagi. Karena itu, saya akan mencari cara untuk melupakan."

Salah satu cara praktis untuk melupakan objek kesedihan adalah dengan berfilsafat, dengan merenung atau berkontemplasi, bertafakur, memikirkan hal-hal bermanfaat untuk dipikirkan. Karena itu Socrates mengatakan bahwa berfilsafat adalah terapi hidup sehari-hari. Ketika kita sudah masuk ke alam filsafat, maka soal caci maki , fitnah dan hinaan orang akan menjadi terlihat kerdil dan tidak tampak penting untuk dipikirkan lagi. Karena itu saya katakan bahwa Berfilsafat merupakan bantuan Praktis untuk "lupa". Lupa disini artinya lupa terhadap hal-hal yang memang tak berguna untuk diingat ingat.

Simak pula kisah "Bagau Kertas" tentang gadis Jepang yang bersedih karena dokter memvonisnya tak akan berumur panjang. Temannya memberi tahu dia, bahwa  bila seseorang dapat membuat bangau kertas hingga seribu buah, maka dia akan berumur panjang. Sejak saat itu sang gadis bersemangat untuk membuat bangau kertas setiap harinya dengan harapan umur nya bertambah panjang. Walaupun akhirnya sang gadis harus meninggal dalam usia muda, namun dia telah menjalani hari-hari penuh semangat dan gembira dengan membuat bagai kertas.

Demikian pula, mari kita lupakan kesedihan kita dengan sibuk memikirkan pekerjaan pekerjaan kita, dengan  menikmati bintang-bintang di malam hari, dengan merenungi alam semesta, dengan menafakuri diri , berjalan, duduk dan bernafas dengan penuh  perhatian dan semangat sampai saatnya maut menjemput kita.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top