Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Monday, 23 April 2018

"Ayat Seribu Dinar"

Rasulullah bersabda, "barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka perlu dengan ilmunya. barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat, maka perlu ilmunya. barang siapa yang menginginkan keduanya, juga perlu dengan ilmunya." 

artinya, ada ilmu-ilmu duniawi seperti managemen bisnis, marketing, dan sebagainya. ilmu-ilmu tersebut digunakan dalam rangka mencari karunia Tuhan di muka bumi, mencari rezeki. ada juga ilmu-ilmu akhirat, untuk menyelamatkan kita dari api neraka. sehingga saat kita mengais rezeki, ilmu akhirat itu menjadi pembimbing, jangan sampai kita mencari rezeki dengan cara yang haram, yang akan menjerumuskan kita ke dalam neraka. dan dengan ilmu akhirat tersebut, rezeki yang kita dapatkah tidak hanya cukup, tetapi juga menjadi berkah. dengan demikian, di sini kita melihat korelasinya antara ilmu dunia dan akhirat. dapat dibedakan, tetapi sejatinya tidak dapat dipisahkan. 

Kaum muslimin mengenal yang disebut dengan "ayat seribu dinar". isinya sebagai berikut : 

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Q.S 65:3)

implikasi yang terdapat dalam ayat tersebut adalah :

Jika bertaqwa, maka ada jalan keluar. 

jika bertawakkal, maka akan mendapatkan rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka

Dalam keyakinan muslim, firman Allah dalam al Quran pasti benar. dengan demikian, muslim semestinya yakin bahwa implikasi di atas pasti benar. dan hukum tertulis dalam ayat tersebut termasuk kepada hukum mistisisme. jika bukan misistisme, maka perlu dikelompokan pada kategori ilmiah dan logika. Tapi, sekarang kalau diuji secara ilmiah, apakah dapat dibuktikan melalui metoda ilmiah bahwa teori tersebut benar ? tidak dapat. karna itu, hukum tersebut masuk ke ranah mistik, di mana suatu peristiwa terjadi berhubungan dengan kekuatan jiwa/batin/pikiran. 

Pertanyaanya, jika seorang muslim yakin kebenaran firman Allah tersebut, maka mengapa masih saja bingung soal rezeki ? ataukah memang ragu dengan kebenarn ayat tersebut ? 

Jadi, kesimpulannya saat kita mencari rezeki, semua jalan yang benar perlu kita tempuh, apakah itu jalan rasional ataupun irasional. Rasional belum tentu benar. irasional belum tentu salah. jalan yang rasional itu adalah berlandaskan kepada pengetahuan ilmiah dan logika. sedangkan irasonal itu, adalah melalui praktik mistik yang hukum-hukum tidak dapat kita hindari dalam hidup sehari-hari.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top