Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Friday, 30 March 2018

Proposisi

Setiap pernyataan yang bernilai benar atau salah disebut proposisi. Proposisi mustahil bernilai benar dan salah secara bersamaan, juga mustahil tidak benar dan tidak salah. Jika suatu proposisi bernilai benar, maka pasti ia tidak salah. Jika bernilai salah, maka mustahil bernilai benar.  Itulah sifat proposisi. Pernyataan yang tidak bernilai benar atau salah disebut pernyataan saja, dan tidak termasuk kedalam proposisi

Jika nilai benar dan salah tergantung dari keputusan seseorang. Maka dapat di simpulkan, benar dan salah itu bersifat subyektif. Seperti yang dikatakan oleh Prof Dr. Ranjabar, bahwa keyakinan itu selalu bersifat subjektif. Dan apa yang disebut dengan pendapat objektif itu adalah keyakinan berdasarkan parameter tertentu, di mana parameter nya itu sendiri sebenarnya subjektif. Jadi, di sini seolah ada kontradiksi.
 
A) setiap keyakinan adalah subjektif
O) Sebagian keyakinan tidak subjektif
 
Tetapi sebenarnya terdapat berbeda antara dalam definisi "keyakinan" dalam dua Proposisi di atas, jadi tidak dapat dikatakan sebagai kontradiksi. Akan saya jelaskan dengan contoh.
 
Contoh pendapat objektif.
 
Ada sebuah meja. Dan kita ingin mengetahui berapa panjang meja tersebut. Lalu kita menggunakan meteran untuk mengukur nya. Lalu berdasarkan pengukuran tersebut, diketahui bahwa panjang meja adalah 1,2 m. Pendapat tersebut disebut objektif, karena panjangnya objek diukur dengan parameter meteran. Tetapi, tahukan anda, siapa yang pertama kali menentukan satuan meter ? Bagaimana kita sepakat bahwa 1 meter didefinisikan sebagai 100 cm ? Dan siapa yang pertama menentukan panjang jarak centimeter ? Satuan meter itu, pertama kali ditentukan secara subjektif oleh ilmuwan, yang kemudian disepakati di seluruh dunia. Jadi, pendapat yang objektif tadi ditakar oleh suatu parameter yang sejatinya ditentukan secara subjektif.

Contoh lain.
 
Setiap A adalah B

Saya tetapkan bahwa Proposisi tersebut bernilai benar. Karena nilai benar ditetapkan langsung oleh saya, tanpa argumen apapun, tanpa parameter apapun, maka itu namanya pendapat subjektif. Tetapi "sebagian A bukan B" bernilai salah,  merupakan pendapat objektif, karena ditakar oleh parameter pertama tadi. Saya tidak lagi dapat menetapkan bahwa bahwa pendapat tersebut bernilai benar. Karena akan menyangkal keputusan saya sendiri. 

Jadi, pendapat objektif itu adalah konsekuensi logis dari pendapat yang bersifat subjektif tadi. Dengan demikian, pendapat yang objektif selalu berawal dari sesuatu yang subjektif. Dengan demikian, awal segala keyakinan selalu subjektif, namun konsekuensi konsekuensi nya berkembang menjadi pengetahuan objektif.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top