Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Sunday, 4 March 2018

Posisi Teratas Dalam Struktur Organisasi Islam

Posisi Teratas Dalam Struktur Organisasi Islam

Ilmu Logika dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Akan tetapi, seperti yang sering saya katakan, menjadi ahli logika tidak berarti "tahu segalanya".  Logika bagaikan kaca mata, sedangkan ilmu pengetahuan yang luas bagaikan buku bacaan. Walaupun orang punya kaca mata bagus, tetapi tidak punya buku untuk dibaca, maka ia tidak akan tahu apapun isi dari buku tersebut. Tetapi sebaliknya, orang punya buku untuk dibaca, namun karena tidak menggunakan kaca mata logika, maka penglihatannya kabur, akibatnya salah baca, salah mengerti dan tidak dapat melihat detail -detail seperti yang dilihat oleh orang yang menggunakan kaca mata logika.

Berikut adalah salah satu contoh, bagaimana sebuah kajian ushuludin dilihat dari kaca mata ilmu logika.

Kutip : [1]
—------------------—
Ayat kedua merupakan desain struktur organisasi, yang menempatkan Nabi Muhammad saw paad posisi paling atas dalam rancang bangun organisasi umat Islam. Posisi ini dicerminkan oleh kalimat "Laa tarfa`u aswatakum". Hal ini merupakan landasan untuk menjunjung tinggi dan memuliakan nabi Muhammad saw. Suara yang muncul merupakan ekspresi jiwa, yang penuh penghormatan, yang muncul dalam tutur kata yang sopan. Suara yang lebih tinggi dari suara Nabi adalah bagian dari ketidakpatutan seorang beriman kepada Rasul Nya. Lebih jauh lagi, suara yang melebihi suara Nabi adalah bagian dari kesombongan yang dapat menghancurkan amal dan keimanan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. (Q.S al Hujarat : 2)
==============

Semua muslim bersepakat, bahwa Nabi saw menempati posisi tertinggi dalam struktur organisasi Islam. Hal yang belum disepakati adalah siapa yang menempati posisi tertinggi setelah rasululullah saw wafat ?

Pendapat pertama menyatakan bahwa Rasulullah tetap menempati posisi teratas setelah wafatnya. Karena itu, ketaatan kepada rasulullah diwujudkan dalam ketaatan terhadap ajaran-ajaran beliau. Ini dapat digambarkan seperti, Soekarno sebagai presiden Indonesia sepanjang masa. Walaupun beliau telah wafat, namun beliau dianggap pemimpin tertinggi, tidak ada yang dapat menggantikannya dan ketaatan terhadap perintah-perintahnya diwujudkan berdasarkan ketaatan terhadap ajaran-ajaran Soekarno.

Konsekuensi dari pendapat pertama ini adalah munculnya sosok Rasulullah saw dalam biografi yang berbeda-beda, dan bahkan bertentangan. Bahkan dalam keyakinan para pelaku teror - seperti yang sering disaksikan beritanya di TV- apa yang mereka lakukan merupakan wujud ketaatan terhadap rasulullah saw. Sementara pihak lain, justru melihatnya sebagai bentuk penentangan terhadap perintah Rasulullah saw. Penafsiran terhadap suatu perintah dan larangan, menjadi berbeda-beda bahkan bertentangan, karena bergantung bagaimana cara masing-masing pihak menafsirkan perintah tersebut.

Pendapat kedua menyatakan bahwa setelah wafatnya rasulullah saw posisi teratas ditempati oleh seorang washi, yaitu penerima washiat atau pewaris kepemipinan Rasulullah saw, dan disebut juga sebagai ulil amri. Dengan demikian, ketaatan kepada Allah dan rasulNya diwujudkan dalam ketaatan terhadap ulil amri sebagai person yang menempati posisi teratas dalam struktur organisasi Islam. Karena itu, siapa yang taat pada ulil amri, maka sudah tidak akan ada penafsiran yang berbeda-beda lagi terhadap ajaran Islam.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu (Q.S 4: 59)”

Kutip : [2]
—------------—
Ahlus Sunnah memandang bahwa maksiat kepada seorang amir (pemimpin) yang muslim merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي.

“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku.” [4]

CK :
4) HR. Al-Bukhari (no. 7137), Muslim (no. 1835 (33)), Ibnu Majah (no. 2859) dan an-Nasa-i (VII/154), Ahmad (II/252-253, 270, 313, 511), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (X/41, no. 2450-2451), dari Sahabat Abu Hurairah .

===========================

Kutip : [3]
—-------------------
Ibnu Abi ‘Izz dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, berkata, “Hukum mentaati ulil amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) walaupun mereka berbuat dzalim. Karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri.” (Lihat: Syarh Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 381)

“Ulil amri adalah para imam, penguasa, hakim dan semua orang yang memiliki kekuasaan yang syar’i, bukan kekuasaan thaghut.”  (Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 1/556)

Imam Nawawi berkata, “Ulil amri yang dimaksud adalah orang-orang yang Allah ta’ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat, inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang yaitu dari kalangan ahli tafsir, fikih, dan selainnya.” (Lihat: Syarh Shahih Muslim 12/222)

Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Ulil amri adalah pemegang dan pemilik kekuasaan. Mereka adalah orang-orang yang memerintah manusia. Perintah tersebut didukung oleh orang-orang yang memiliki kekuatan (ahli qudrah) dan ahli ilmu. Karena itulah, ulil amri terdiri atas dua kelompok manusia: ulama dan umara. Bila mereka baik, manusia pun baik. Bila mereka buruk, manusia pun buruk. Hal ini seperti jawaban Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada wanita dari bani Ahmas saat bertanya kepadanya, ‘Apa hal yang menjamin kami akan senantiasa berada di atas perkara (yang baik yang Allah datangkan setelah masa jahiliah) ini?’ Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, ‘Kalian akan senantiasa di atas kebaikan (Islam ) tersebut selama para pemimpin kalian bertindak lurus.” (HR Al-Bukhari) (lihat: Majmu’ Fatawa, 28/170)

Imam Al-Mawardi berkata, “Kepemimpinan adalah pengganti tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia.” (lihat: Al-Ahkamus Sulthaniyah, 1/3)
===================

Jika taat kepada ulil amri, berarti taat kepada rasulullah. Jika menentang ulil amri, berarti menentang rasulullah. Dengan demikian, hanya jika taat pada ulil amri, maka taat pada rasulullah. Itu berarti ketaatan terhadap ulil amri ekuivalen terhadap ketaatan kepada Rasulullah.

Jika seseorang harus ditaati, berarti dia mempunyai hak untuk memerintah. Dalam struktur organisasi, Siapa yang mempunyai hak memerintah, berarti dia adalah seorang pemimpin. Tidak ada yang lebih berhak memerintah, kecuali pimpinan tertinggi. Dengan demikian, siapa yang paling wajib ditaati, maka ia menempati posisi teratas dalam sebuah struktur organisasi. Jika ketaatan kepada ulil amri ekuivalen dengan ketaatan terhadap rasulullah, berarti ulil amri menempati posisi teratas dalam struktur organisasi Islam.

Apakah argumentasi tersebut valid ? Ada berbagai metoda untuk menguji validititas argumen tersebut, yaitu metoda :

1) syllogisme
2) tabel kebenaran
3) Analisys Model Logic
4) Tablo Semantik
5) Resolusi

Silahkan Anda menguji validitasnya dengan metoda manapun. Adapun saya akan menunjukan validitas argumen melalui syllogisme berikut :

Argumen Pertama :
Jika seseorang harus ditaati, berarti dia mempunyai hak untuk memerintah. Dalam struktur organisasi, Siapa yang mempunyai hak memerintah, berarti dia adalah seorang pemimpin. Dengan demikian, siapa yang harus ditaati, berarti dia adalah pemimpin.

Media Islam Salafiyyah, Ahlussunnah wal Jama'ah
Ahlus Sunnah Taat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin
Ketujuh puluh lima :AHLUS SUNNAH TAAT KEPADA PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir JawasDi antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal...

A = seseorang harus ditaati
B = mempuanyai hak untuk memerintah
C = Seorang pemimpin

(A → B) ∧ (B → C) ⊨ (A → C)

Argumen Kedua :
Siapa yang paling wajib ditaati dalam struktur organisasi Islam, maka ia menempati posisi teratas dalam struktur organisasi Islam. Jika ketaatan terhadap ulil amri ekuivalen dengan ketaatan terhadap Rasulullah, maka ulil amri adalah yang paling wajib ditaati dalam struktur organisasi islam. Dan memang, ketaatan terhadap ulil amri ekuivalen terhadap ketaatan terahadap Rasulullah. Dengan demikian ulil amri menempati posisi teratas dalam struktur organisasi Islam.

Dapat diuraikan menjadi pernyataan berikut :

Logika Term :
Setiap A adalah B
Setiap B adalah C
Jadi, setiap A adalah C

A = Ulil Amri
B = Yang paling wajib ditaati
C = Menempati posisi tertas dalam struktur organisasi islam

Ulil Amri adalah yang paling wajib ditaati. Setiap yang paling wajib ditaati, ia menempati posisi teratas dalam struktur organisasi. Jadi, Ulil Amri menempati posisi teratas dalam struktur organisasi.

Pertanyaannya, benarkah Ulil Amri adalah yang paling wajib ditaati ? Jawabannya, jika ketaatan terahadap ulil amri ekuivalen dengan ketaatan terhadap rasulullah saw, maka benar, ekuivalen. Berarti memang benar, ulil amri adalah yang paling wajib ditaati.

A = ketaatan terhadap ulil amri
B = ekuivalen dengan ketaatan terhadap rasulullah saw
C = ulil Amri yang paling wajib ditaati

Premis 1: (A → B) → C
Premis 2: A → B
Kesimpulan : C
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top