Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Friday, 16 March 2018

Karakter Anak dan Manajemen Kelas

Karakter Anak dan Manajemen Kelas

Seorang guru sebaiknya juga mendengarkan anak agar anak merasa dihargai dan dianggap. Mengenai karakter anak pertanyaan yang umumnya muncul adalah Bagaimana menjadi sosok guru yang mampu menjadi pendengar baik bagi anak dengan berbagai macam karakter anak di kelas, seperti anak yang cerewet, pendiam, introvet, ataupun anak anak yang berkebutuhan khusus?

Selain itu bagaimana menyikapi anak yang kurang bisa bergaul dengan teman dan sikap anak yang suka membicarakan gurunya kepada temannya?


Berkaitan dengan anak, ada hal yang perlu kita pahami, bahwa setiap anak mempunyai karater yang berbeda. Ada anak yang mempunyai karakter lemah lembut dan mudah terbuka kepada orang lain. Sebaliknya ada anak yang memiliki karakter keras dan sangat tertutup kepada orang lain. Sehingga anak tersebut cenderung menjadi anak yang pendiam dan tidak mau bergaul dengan teman lainnya.

Sebagai guru, menghadapi kedua karakter anak yang bertolak belakang tentu harus mampu menjadi subjek yang dapat memahami apapun dan bagaimanapun karakter anak didik kita. Yang perlu dilakukan oleh kita sebagai pendidik adalah menjalin kedekatan dengan anak. Sehingga anak akan merasa nyaman.
Kenyamanan inilah yang menjadi kunci kita untuk dapat menaklukan anak. Menaklukan hati anak. Saat anak takluk kepada kita, disitulah sebuah hubungan baik akan terjalin antara anak dan guru. Hampir semua anak disini sudah menganggap saya sebagai orang yang dekat dengan mereka. Anak-anak dekat karena anak-anak merasa nyaman.  Saya sering mengajak mereka bermaian dan bercanda saat pembelajaran dengan cara-cara saya yang mungkin sangat sederhana namun dapat membuat anak-anak tertarik. Hingga anak-anak suka dengan saya. Misal, saya ajak anak-anak bermain dengan permainan-permaian kreatif. Dari permainan ini, anak akan dapat terhibur dan menambah kenyamanan pada kita.

Bagaimana cara melibatkan anak dalam proses pembelajaran di kelas apabila memiliki berbagai macam keterbatasan seperti keterbatasan wicara dalam belajar?

Bagaimana mendesain pembelajaran dengan tipe anak yang sangat aktif atau anak anak yang belum mengenal teknologi karena berada di lingkungan yang jauh dari pusat kota? 

Bagaimana cara melibatkan anak dalam proses pembelajaran di kelas apabila memiliki berbagai macam keterbatasan seperti keterbatasan wicara dalam belaja?

Sedikit sharing mengenai manajemen kelas yang saya kelola disini. Kelas yang saya kelola bukanlah kelas yang berada di dalam suatu ruangan. Saya biasa mengajar di ruangan terbuka. Ya, memang ruang kelas kami di sini, dimanapun bisa digunakan untuk belajar.

Tentu bisa dibayangkan betapa anak akan sangat riuh dan sangat ramai. Inilah yang sejatinya saya ciptakan. Membuat pembelajaran yang dapat membuat anak senang. Namun, apakah kita sebagai guru akan melarang anak untuk melarang anak-anak tidak ramai? Tentu saja tidak bukan.

Salah satu yang saya desain disini adalah menciptakan kondisi belajar yang “Hidup.” Dalam hal ini, anak senang, anak dapat menikmati, anak aktif, dan tentunya anak dapat menangkap apa yang saya ajarkan.
Untuk menciptakan kondisi seperti ini yang saya lakukan adalah melakukan pembeljaran yang kreatif. Mengapa? saya memahami psikis anak, bahwa anak memiki rasa bosan yang lebih cepat dar pada orang dewasa. Untuk itulah, sebagai pengajar perlu mempunyai cara kreatif. Sehingga anak-anak dapat senang dengan pembelajaran yang kita ajarkan.

Sedikit saya singgung di atas, bahwa saya dan anak-anak biasa belajar di ruangan terbuka. Yang tentu konsekuensinya saya sebagai pengajar adalah harus menghadapi anak yang lebih aktif dari pada biasanya, yang di sekolah belajar di dalam ruangan tertutup.

Inilah yang menjadi kunci desain pembelajaran saya. Yaitu memanfaatkan anak-anak yang aktif untuk belajar.

Anak yang aktif biasanya sebelum saya memulai pemeblajaran dengan permaian. Yaitu saya akan meminta anak itu untuk membacakan sebuah buku kepada teman-temannya. Dengan mengekspresikan sesuai apa dengan buku apa yang dibaca.

Saat inilah teman-teman yang lain akan memperhatikannya. Setelah semua perhatian sudah dapat ditangkap, barulah saya masuk dan memberikan pembelajaran.

Berkaitan dengan teknologi, sebelumnya saya akan bercerita tentang anak-anak disini. Saya dan anak-anak yang saya ajar berasal dari kampung di pinggiran kota Purwokerto. Teknologi yang kami miliki disini pun hanya ada seperangkat PC yang kami letakan di Pusat Pembelajaran kami. PC ini untuk masyarakat, dari anak-anak, ibu-ibu, remaja, dewasa sampai orang tua. Semua boleh menggunakan PC yang kami miliki.

Bisa dibilang dalam pembelajaran kami jauh dari teknologi. Tapi ini bukanlah menjadi penghalang bagi saya untuk mengajar anak-anak. Bagi saya pembelajaran  yang baik bukan dilit dari banyaknya teknologi yang digunakan, tetapi pembelajaran yang  baik menurut saya adalah ketika kita bisa memberdayakan segala sesuatu yang bisa kita buat sebagai media belajar untuk anak-anak.

Saya sering mengjar hanya berbekal dengan kertas bekas dari tugas-tugas kuliah saya sudah sudah tidak terpakai lagi. Dari kertas bekas ini saya buat sebagai media belajar yang dapat membuat anak senang. Misalnya, kertas itu digunakan sebagai KARTU KATA AJAIB. Yang mana kartu-kartu ini digunakan sebagai bahan tebak-tebakan anak yang menyenangkan.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top