Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Monday, 5 March 2018

Hari Persaksian

Hari Persaksian

Hari telah siang di padang Arafah. Terlihatlah seorang lelaki sedang berdiri di sana dengan tangan menggenggam tujuh batu kerikil kecil.

Rupanya bukan tanpa maksud ia genggam batu itu, melainkan karena ia ingin syahadatnya disaksikan oleh selain dirinya, meski hanya batu. Berkatalah ia kepada tujuh kerikil tersebut,

"Wahai batu, bersaksilah nanti di hadapan Tuhanku bahwa aku bersyahadat tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah."

Ketika malam tiba, lelaki itu tertidur dan bermimpi sedang berada di hari kiamat. Ia digiring oleh malaikat menuju neraka karena dosa-dosanya ketika di dunia.

Anehnya begitu sampai di pintu neraka, jatuhlah sebuah batu besar sehingga menutupi pintu itu. Melihat hal tersebut malaikat menggiringnya menuju pintu neraka yang lain.

Tetapi kejadian yang sama terjadi kembali. Demikianlah seterusnya sampai tujuh pintu neraka tidak ada satupun yang bisa dimasuki karena tersumbat batu besar.

Si lelaki tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya, "Dari mana datangnya batu-batu itu?"

"Itu adalah tujuh kerikil yang kau genggam ketika bersyahadat. Hari ini datang untuk menjadi saksi bagimu!"

Kemudian ia terbangun dari mimpinya. Kisah ini cukup populer disampaikan para ulama, salah satunya Syekh Muhammad Al-Usrufi.

Sungguh sebuah kisah yang tepat sekali menggambarkan bahwa benda-benda tidak bernyawa sekalipun akan menjadi saksi amal perbuatan baik kita, maupun amal perbuatan tidak baik.

Berapa banyak benda-benda yang ada di dalam rumah kita? Sudah pasti banyak sekali. Oleh karena itu mari kita berhati-hati jangan sampai mereka menjadi saksi perbuatan tidak baik yang kita kerjakan.

Bisakah kita bayangkan apabila piring dan sendok yang kita miliki harus bersaksi di hadapan Allah? Apakah mereka akan bersaksi bahwa kita senantiasa bersyukur atas setiap suap nikmat Allah yang kita santap?

Bagaimana halnya dengan dompet di saku? Persaksian seperti apa yang ia sampaikan di hadapan Allah nanti? Apakah ia akan bersaksi tentang kedermawanan kita membantu orang lain?

Belum lagi sandal dan sepatu, pakaian yang kita kenakan, handphone kesayangan kita, dan benda-benda lainnya. Mari kita berjuang sungguh-sungguh agar tidak ada satupun -meskipun hanya benda tak bernyawa- yang menyaksikan kita dalam keadaan yang tidak baik.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top