Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Thursday, 1 March 2018

Counter Model

Counter Model

Contoh sebuah ungkapan :
1) Jika kamu ramah pada saya, maka saya akan ramah pada kamu.
2)  Jika saya tidak ramah pada kamu, berarti saya membenci kamu.
3) Jadi, jika saya tidak tidak membenci kamu, maka kamu ramah pada saya.

Ungkapan pertama dan kedua merupakan premis atau argumen. Sedangkan ungkapan ketiga merupakan kesimpulan.

Pertanyaannya, apakah argumen di atas valid atau tidak ? Bagaimana cara membuktikan validitas nya ? Apakah kesimpulan nya logis ?

Kita dapat menguji validitas argumen tersebut dengan tabel kebenaran. Namun, kelemahan tabel kebenaran ialah membutuhkan baris dan kolom yang banyak. Untuk menguji validitas argumen dalam contoh ungkapan di atas, dibutuhkan 8 baris dan 9 kolom.

Ada cara yang lebih sederhana dalam menguji validitas argumen dibandingkan dengan tabel kebenaran, yaitu dengan Counter Model yang berlandas pada Strategi Pembalikan.

Sebelum lebih jauh membahas tentang teknik counter Model, perlu saya jelaskan di sini tentang ukuran rumit atau sederhana yang dimaksud di sini bukanlah berdasarkan "Perasaan Anda". Sehingga Anda nanti tidak semestinya berpikir bahwa Counter Model ini lebih rumit karena anda merasa rumit memahami nya. Juga tidak menilai tabel kebenaran lebih sederhana karena Anda lebih dahulu telah mempelajari dan mengerti tata cara membaca tabel kebenaran. Tetapi tolok ukur rumit atau sederhana nya adalah dengan perbandingan kemudahan pengerjaan nya antara tabel kebenaran dalam efisiensi waktu pengujian atau baris tabel yang harus dianalisis.

Tabel kebenaran : 8 baris
Counter Model : 1 baris

Karena counter model hanya butuh 1 baris saja, jauh lebih sedikit dari tabel kebenaran, maka disebut lebih sederhana. Jadi, sekali lagi dalam menilai lebih rumit atau sederhana nya suatu metoda logika, jangan menggunakan perasaan Anda sendiri. Tapi gunakan perbandingan nya dengan tolok ukur yang benar.

Dengan Counter Model, berarti kita tidak perlu memeriksa seluruh nilai yang mungkin dalam tabel kebenaran, melainkan cukup dengan menemukan satu kondisi di mana kesimpulan bernilai benar secara bersama dengan argumen. Ini yang disebut dengan mutually Consisten. Akan tetapi, karena nilai benar dapat muncul dari berbagai kondisi, maka digunakan strategi pembalikan, di mana kesimpulan diberi nilai salah (False), di mana itu berarti hanya ada satu kondisi saja yang mungkin, yakni premis pertama harus bernilai True dan premis kedua bernilai false. Dengan demikian, berarti argumen valid. Tetapi bila muncul kondisi bahwa nilai False pada kesimpulan dapat muncul bersama-sama dengan semua argumen yang bernilai True, berarti argumen tidak valid.

Prinsip tersebut, mari kita terapkan pada contoh kasus :

A = kamu ramah terhadap saya.
B = saya ramah terhadap kamu.
C = saya membenci kamu

Ekspresi :

1) A -> B
2) - B -> C
3) jadi, - C -> A

Langkah 1 : Cek kesimpulan
1) jika V(-C -> A) = F, maka pasti V(-C) = T, dan V(A) = F.
2) ‎jika V(-C) = T, maka pasti V(C) = F
3) ‎Jadi, V(A) = F dan V(C) = F

Ket :
V() = Value Of

Langkah 2 : Cek Premis 2
1) Jika V(-B -> C) = T, sedangkan V(C) = F, maka V(-B) = F
2) ‎jadi, V(-B) = F dan V(B) = T

Langkah 3 : Cek Premis 1
Jika V(A->B) = T, sedangkan V(A) = F, dan V(B) = T, maka hal ini dapat terjadi (F->T) = T.

Kesimpulan :
Jadi, ada kondisi di mana Premis 1 & 2 bernilai benar, sedangkan konklusinya bernilai salah, maka ini berarti argumen di atas tidak valid.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top