Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Friday, 2 March 2018

Bukan Kelinci LGBT

Aku membeli sepasang kelinci  yang lucu. Kupelihara mereka, kuberi makan setiap hari, berharap mereka akan cepat beranak. Kubiarkan mereka bebas berkeliaran di halaman, berlarian, kejar - kejaran satu sama lain. Terlihat seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara, senantiasa berkasih mesra. Semoga mereka berdua mengalami hari-hari yang bahagia.

Setiap pagi atau sore, dua kelinci lucu itu berlari-lari menghampiriku. Mereka manja, seperti berlari menuju ayah mereka sendiri. Mulutnya menggelitik kakiku, minta dielus. Terkadang juga kugendong.

"Ayo, bermainlah kembali, aku hendak pergi bekerja. Nanti sore, kita bersua kembali." Ujarku pada mereka. Mereka mengantar kepergian ku dengan tatapan matanya, dan telinga yang berdiri.

Lama sudah berlalu, bulan telah berganti bulan. Kini hampir delapan bulan berlalu. Namun aku heran, mengapa kelinci ku tak juga beranak. Hingga tiba-tiba, satu ekor :rabbit: kelinci ku menghilang. Entahlah ia pergi ke mana. Ku cari ke mana-mana, tapi tak ketemu juga. Saya rasa, kelinci yang hilang itu :rabbit: yang jantan.

Sejak hilangnya, si betina terlihat selalu murung. Ia bersedih dan gak mau makan, bagaimana pun juga aku membujuknya untuk makan. Ku pikir, aku harus membawakan untuknya, seekor kelinci jantan yang lebih tampan, supaya menjadi pelipur lara bagi si betina.

Ku beli dengan harga Rp. 40.000. Kurasa, kelinci jantan ini lebih besar, lebih macho dari pejantan sebelumnya nya. Ku perkenalkan dia pada kelinci betina ku.

Sudah kuduga, kelinci betina itu akan senang mendapatkan teman baru. Tapi aneh, kelinci betina itu mengendus-endus bagian ekor kelinci jantan. Lebih dari itu, dia menjilati nya. Dan tidak terduga, si betina naik ke punggung kelinci jantan itu. "Lha... Kok.. kelinciku ku ini, jantan apa betina sih ?"

Ha..ha.. aku baru nyadar. Ternyata kelinci ku itu jantan. Dan kelinci yang baru kubeli ini betina. Pantas saja, kelinci ku tak kunjung beranak. Rupanya, dua-duanya jantan. Pantas saja, mereka tak pernah terlihat kawin, rupanya hanya bersahabat. Sedangkan kelinci baru ini, memang betina. Makanya, begitu bertemu langsung dikawini nya.

Saya termenung, kelinci saja tau mana cewek, mana cowok. Mereka enggan berkawin dengan sesama jenis. Walaupun hidup berbulan-bulan tanpa lawan jenis. Begitu dikasih lawan jenis, dia langsung tau, itu boleh dia kawin. Kesimpulan nya, berarti kelinci ku ini bukan kelinci LGBT.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top