Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Thursday, 15 March 2018

Budaya Senioritas Dalam Pekerjaan

Saya cukup heran dengan budaya senioritas di dalam pekerjaan. Karyawan - karyawan lama merasa berkewajiban untuk membimbing, mengarahkan, dan mengajarkan karyawan - karyawan baru. Itu bagus dan tidak ada masalah pada titik ini.
 
Tetapi saya merasa heran ketika seseorang menggurui kita dalam hal - hal yang sudah saya ketahui dan bahkan kita kuasai sebelumnya dengan suatu kesan seolah - olah kita tidak tahu apa - apa tentang hal tersebut. Apa - apa diajari seolah - olah kita ini adalah bayi yang baru lahir tanpa gagasan sedikit pun bahwa "mungkin saja kita sudah tahu atau bahkan menguasai hal - hal yang diajari tersebut".

Coba kita bayangkan, pada saat kita bekerja  dengan baik sesuai dengan metode kita sendiri, baru saja berjalan separuh langkah kita sudah di-interupsi oleh senior kita karena kesalahpahamannya.

Bagaimana kita menghadapi situasi - situasi dalam pekerjaan seperti ini ?

Pertama, sebelum kita masuk dan bergabung dengan suatu komunitas, kita sudah menyiapkan diri dengan berpikir bahwa di komunitas manapun kebaikan dan keburukan senantiasa berdampingan, orang yang berhati buruk, selalu ada menyelinap di antara orang-orang baik. Andainya ada orang yang bodoh, orang yang galak, yang iri, yang membenci, kita harus siap menghadapi semuanya dengan senang hati. Jika ada orang yang baik dan berilmu, akan kita jadikan guru. Bila ada orang yang berperangai buruk dan bodoh, akan kita jadikan murid, untuk dibimbing ke arah yang lebih baik. Jadikan semuanya sebagai ladang amal kebaikan. Jika semua orang dalam suatu komunitas hanyalah orang-orang shaleh, baik dan pintar, maka di manakah ladang dakwah kita ? Adanya orang-orang dengan kekurangan di berbagai sisi, itulah gunanya kita ada di sana, untuk menambah apa yang kurang, untuk menambal kebocoran, untuk memenuhi apa yang kurang, untuk memperbaiki apa yang rusak.
 
Kedua, hampir semua orang gemar menilai orang lain dengan penilaian yang buruk-buruk. Tetapi tidak ada yang dapat menyakiti kita, kecuali penolakan terhadap penilaian-penilaian tersebut. Karena itu, sebelum masuk ke dalam suatu komunitas, kita sudah siap untuk dinilai orang lain, tak perduli apakah penilaian mereka benar atau keliru, baik atau buruk, kita harus dapat menerima semua penilaian orang lain dengan senang hati. Karena tak ada gunanya juga menolak. Orang lain tak dapat dicegah untuk menilai kita. Tetapi sebaiknya kita berusaha untuk tidak banyak menilai orang lain, kecuali bila benar-benar dibutuhkan atau diminta orang lain. Sehingga penilaian dapat dirasakan orang lain sebagai bantuan yang berharga, bukan penghakiman yang menyakitkan.

Bila dalam suatu komunitas, memberikan penilaian buruk pada orang lain sudah menjadi tradisi, maka orang-orang di tempat itu akan kehilangan rasa percaya diri dan daya kreativitas. Sama seperti orang tua yang sering bilang kepada anaknya "kamu nakal, kamu bodoh, kamu malas, kamu tidak bertanggung jawab" itu seperti kutukan-kutukan yang menyakitkan dan sama sekali tidak membentuk karakter anak yang baik, malah akan memperburuk perangai anak. Akhirnya si anak belajar untuk mengakui kebenaran penilaian buruk dari orang tuanya, "memang benar saya nakal, memang benar saya malas, saya bodoh, saya tidak bertanggung jawab" dengan rasa minder dan sedih. Anak akan berpikir bahwa tidak berguna menolak penilaian orang tuanya, lebih baik mengakuinya. Dan bila dirasa penilaian nya tidak tepat, dia harus menjadikan nya tepat. Jadi, bila sebenarnya si anak tidaklah bodoh, dia akan benar-benar menjadi bodoh.
Di sisi satu sisi, orang-orang yang gemar menilai tidak suka penilaian nya dibantah. Mereka dengan berbagai cara akan menunjukan bukti-bukti bahwa penilaian nya sudah tepat dan tak terbantahkan. Bahkan, bila mereka tidak punya bukti apapun, hampir semua orang tidak suka penilaian nya dibantah. Bantahan-bantahan akan dinilai kembali sebagai upaya beladiri yang buruk. Munculah doktrin, "mengakui kesalahan itu baik". Akhirnya karena ingin dipandang baik, ketika dituduh jelek, dia segera mengakui "o iya saya jelek, betul sekali bos, saya memang bodoh. benar sekali tuan, saya ini malas." Lalu tuannya akan mengacungi jempol "Bagus, kamu gentleman, mengakui kesalahanmu sendiri".

Jadi, perhatikan di sekitarmu, ada orang yang gemar menilai dan sangat suka bila penilaian nya tentang diri kita, kita akui. Jika kita menolak penilaian itu, maka itu menimbulkan masalah dalam diri sendiri. Dan jika kita mengakuinya, juga sama menimbulkan masalah yang buruk. Karena itu tidak perlu bersikap menolak maupun mengakui penilaian orang lain terhadap diri sendiri. Biarkan dan izinkan orang lain menilai kita untuk kepuasan dirinya sendiri, tanpa harus kita tolak maupun kita akui.

Kita harus memulai dari diri kita sendiri, dengan berusaha untuk tidak mengatakan hal yang buruk-buruk tentang orang lain. Bukan hanya itu, bahkan kita pun tidak boleh mengatakan hal yang buruk-buruk tentang diri kita. Dalam bekerja, kita jangan terlalu banyak membahas tentang "aku" dan "kamu", tapi bahas lah pekerjaan itu sendiri. Jangan banyak bicara tentang apa yang salah pada "aku" dan "kamu" tapi, cari tahu apa yang salah dalam proses pekerjaan dan bagaimana memperbaiki nya.

Ketiga, dihadapan senior yang bermaksud membimbing kita, maka "kosongkan gelas kita". Biarkan dia mengalirkan ilmunya kepada kita. Biarkan dia mengajarkan kembali hal-hal yang sejatinya kita sudah tahu. Jika kita merasa tidak suka atau bahkan menolak diajari, karena kita anggap bahwa kita sudah tau, sudah mengerti, maka orang lain akan menjauh, melihat kita sebagai orang yang angkuh, dan "gelas kita sudah penuh", tak ada lagi yang mesti di isi.

Saat saya baru bergabung di sebuah perusahaan / lembaga, saya di bimbing oleh senior yang usianya setengah dari usia saya, jauh lebih muda. Dia canggung untuk mengajari saya karena saya hampir seusia ayahnya dan terlebih dia melihat bahwa saya seorang cerdik pandai yang punya banyak kelebihan. Akan tetapi saya meyakinkan dia bahwa saya hanya pandai dalam beberapa hal saja, tidak dalam semua hal. Saya menyatakan siap di bimbing, diajari sekalipun oleh anak yang usianya sebaya dengan anak saya. Terlalu banyak hal di dunia ini yang tidak saya ketahui. Terlalu malu bagi saya untuk mengaku tau. Dengan kerendahan hati kita, maka orang lain bersedia dengan senang hati berbagi ilmunya pada kita.

Akhirnya saya diajari banyak hal oleh senior muda saya. Lalu dia mulai melihat bahwa saya tidak sepandai perkiraan nya. Beberapa hal yang diajarkan, tidak mudah untuk saya kuasai. Lalu dia mulai ngomel ngomel dan mengatakan hal-hal buruk tentang saya. Saya bersabar, dan melihatnya sebagai tingkah laku yang lucu saja. Kalau dia marah, karena menganggap saya lelet dalam belajar, saya segera berpikir keras untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dengan demikian, saya akan bersamanya dia sama sama berpikir keras untuk menjawab suatu persoalan, sehingga tidak ada ruang bagi emosi-emosi negatif untuk berkembang. Akhirnya terjalinlah persahabatan yang baik antara saya dengan dia. Demikian lah cara saya bersikap terhadap semua orang dalam lingkungan kerja sehari-hari.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

1 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top