Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Wednesday, 14 March 2018

Belajar Tidak Pernah Terbatas Usia

Belajar tidak pernah terbatas usia. Belajar tidak pernah terbatas oleh siapa saja. Termasuk, belajar pada anak-anak.

Sore itu, seperti biasa. Anak-anak datang mengunjungi gerobak baca. Kemudian membawa sebuah buku yang diberikan kepada saya untuk dibacakan. Saya menerima buku itu lalu membacakan di depan anak-anak dengan gaya dan ekspresi penuh mengikuti teks cerita yang ada dalam buku.

Anak-anak sangat antusia mendengarkan cerita sampai habis. Setelah selesai, tiba giliran saya untuk bertanya mengenai isi cerita yang saya bacakan. Hal yang membuat saya terkagum pada mereka adalah ketika mereka dapat menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan dengan benar. Dari sini saya sadar. Mereka sangat memperhatikan setiap kata yang saya utarakan. Hingga mereka mampu menangkap isi cerita yang saya bacakan di hadapan anak-anak. Saat itulah, sebuah proses pembelajaran berhasil saya lakukan. Proses yang mana membuat anak-anak belajar. Mengikuti semua yang saya ceritakan.

Tidak hanya itu. setelah saya selesai memberikan beberpa pertanyaan. Tiba-tiba salah seorang anak mengacungkan jarinya. Lalu kemudian berkata, “Kak, tinggal Meli ya yang bercerita?” Seketika saat itu saya pun mengizinkan anak itu untuk duduk menggantikan posisi saya. Dan saya duduk menggantikan posisi anak tersebut. Saya beserta anak-anak lain duduk, dan mendengarkan Meli bercerita. Semua teman sangat antusias mendengarkan cerita egitu juga dengan saya. Yang sepanjang  Meli bercerita saya memperhatikan bagaiman caranya dia bercerita. 

Bisa tergambarkan bagaimana suasana pembelajaran yang tidak hanya guru yang aktif mengajarkan, namun anak pun terlibat aktif belajar. Inilah proses pembelajaran yang ada di komunitas belajar Wadas Kelir. Sebuah proses pembelajaran yang tidak hanya mengedepankan guru untuk belajar. Namun, anak secara langsung menjadi subjek pembelajaran yang aktif. Karena bagi saya, pembelajaran yang baik adalah ketika pengajar mampu mengkondisikan siswa-siswinya untuk belajar. Sebuah pandangan mengenai pembelajaran yang mengedepankan realita dari pada teoritik.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top