Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Sunday, 25 March 2018

Analisa Logis Terhadap Bacaan Penuh Argumenum Ad Verecundiam

Analisa Logis Terhadap Bacaan Penuh Argumenum Ad Verecundiam

Maka wanita-wanita yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka upah nya sebagai suatu kewajiban (Q. S an Nisa : 24)

Bagi kaum Syiah, ayat ini merupakan ayat yang menegaskan legalitas atas syariat nikah mut'ah. Tidak demikian halnya bagi kaum Sunni, sehingga lahirlah dua Proposisi yang bertentangan antara kedua kelompok ini. 

A) Mut'ah itu halal
E) Mut'ah itu tidak halal

Jika satu benar, lainnya pasti salah. Penting bagi saya untuk mengetahui mana yang benar, untuk mengetahui mana yang salah. Namun saat mencoba menelusuri argumen dari keduanya, kedua belah pihak sama-sama menggunakan dalil argumentum ad verecundiam. Dengan demikian, tak ada yang saya anggap lebih kuat atau lebih lemah, melainkan sama kuat atau sama lemah. Akhirnya, klasifikasi soal mut'ah kepada halal haram, hanyalah soal pilihan berdasarkan kecenderungan keyakinan saja. 

Sudah saya katakan bahwa kita tidak dapat hidup tanpa argumen ad verecundiam. Juga sudah saya katakan bahwa argumen ad verecundiam bukanlah kegemaran kaum logicer. Dengan demikian, argumentum ad verecundiam, walaupun tidak dapat dihindari, namun tidak saya gemari. Demikian pula terkait persoalan nikah mut'ah. Karena tidak gemar dengan argumentum ad verecundiam, maka saya berusaha untuk menemukan proposi-proposisi analitis dalam buku-buku yang penuh dengan verecundiam, mencari kontradiksi- kontradiksi nya dan atau menemukan konsekuensi konsekuensi logisnya.

Seperti contoh ditemukan keterangan "Para sahabat bahwa ayat di atas menegaskan disyariatkan nikah mut'ah".

Tetapi, dalam sumber lain menyebutkan bahwa Umar bin Khattab melarang nikah mut'ah.

Dengan demikian saya dapat melakukan analisa-analisa logis sebagai berikut :

A  = setiap sahabat memahami kehalalan syariat nikah mut'ah
B = Umar bin Khattab melarang nikah mut'ah.
C = Umar bin Khatab melarang penegakan syariat
D = Hukum mut'ah halal.
E = Umar bin Khattab memahami kehalalan nikah mut'ah

Dengan demikian ada beberapa pernyataan yang mungkin :
1) jika A, E, dan B, maka C
2) ‎jika tidak E, maka mustahil A.
3) ‎jika tidak D, maka tidak C.
4) ‎jika B, maka C, D atau E.

Dengan melakukan analisa logis, saya membawa pikiran saya kepada alur pemikiran yang bersifat pasti, tidak terombang ambing oleh sesuatu yang bersifat vercundus, yang tidak akan pernah habis untuk diperdebatkan karena bukan landasan yang benar untuk debat. Bila memang saya harus memegang suatu argumentum yang bersifat vercundus, maka itu pilihan yang harus saya simpan sendiri atau dibagikan kepada pihak yang dapat bersetujuan, bukan pada pihak yang memiliki semangat penentangan. Bagi mereka yang memiliki semangat penyangkalan yang kuat, berikan saja argumentum ada judiciam, sehingga dari sisi manapun mencoba menyangkal dan mematahkan argumen, maka ia akan gagal.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top