Literasi Dunia Seputar Pendidikan, Islam, dan Filsafat

Saturday, 24 February 2018

Keturunan Ibrahim A.s Sebagai Kriteria Imam

 

 Keturunan Ibrahim A.s Sebagai Kriteria Imam

Ahmad berkata, “Bersandar kepada surah al-Baqoroh : 124, bahwa Allah telah memilih,menguji dan mengangkat ibrahim a.s menjadi imam. kemudian Ibrahim a.s memohon agar keturunannya juga dijadikan imam. lalu Allah engabulkannya. Saya ingin bertanya kepada antum, apakah menurut antum benar demikian tafsirannya? Jika tidak, maka bagaimanakah tafsiran yang benar menurut pemahaman antum?”

Umar menjawab, “Ehmmm....sepertinya tidak terlalu jauh berbeda kang. Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya mengatakan :

 لما جعل الله إبراهيم إماماً سأل الله أن تكون الأئمة من بعده من ذريته فأجيب إلى ذلك
“Pada saat Allah hendak menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam sebagai imam untuk seluruh manusia, maka beliau memohon kepada Allah agar para imam sesudahnya berasal dari keturunannya dan Allah-pun mengabulkan keinginan beliau itu.”

Dikabulkannya permintaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam ini oleh Allah, juga disebutkan dalam firman-Nya :

“Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya`qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya,..” (Q.S Al-Ankabut ayat 27)

Yakni dengan menjadikan diantara keturunan2 Nabi Ibrahim `alaihissalaam sebagai Nabi2 Allah.

Maka setiap Nabi yang diutus dan setiap kitab yang diturunkan oleh Allah, itu semua terjadi di kalangan anak cucu Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dan semuanya dikatakan sebagai imam, yakni menjadi teladan dan ikutan bagi manusia.
Kemudian Mujahid rahimahullah mengatakan tentang surat Al-Baqarah ayat 124 ini bahwa :

أما من كان منهم صالحاً فأجعله إِماماً يقتدى به,

“Adapun orang2 yang salih dari kalangan  keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam, maka Allah akan menjadikannya sebagai imam yang diikuti.”

Yakni dengan menjadikannya lebih umum bahwa imam di sini -selain dari kalangan para Nabi-, maka mencakup juga semua orang salih dari kalangan keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam.

Dan apa yang ada pada diri saya, diwakili oleh perkataan kedua ulama di atas.”
Ahmad menanggapi, “Terima kasih atas jawabannya. pertanyaan selanjutnya, Imam Ali bin Abi Thalib, Imam Hasan, Imam Husain, Imam Ali Zainal Abidin, dan Imam Jakfar As-Shadiq adalah adalah orang-orang shaleh dari keturunan nabi Ibrahim. Dengan demikian, berarti keyakinan bahwa - mereka itu adalah para imam yang haq, yang patut diikuti oleh manusia, yang dijadikan oleh Allah sebagai imam, sebagaimana janji Allah dalam surah 2:124 – merupakan keyakinan yang benar?”

Umar berkata, “Jika pendalilannya seperti itu, maka Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu `anhu-pun adalah keturunan dari Nabi Ibrahim `alaihissalaam.
Begitupula `Umar bin Al-Khathab radhiyallaahu `anhu adalah dari keturunan Nabi Ibrahim `alaihissalaam. Begitupula `Utsman bin `Affan radhiyallahu `anhu adalah dari keturunan Nabi Ibrahim `alaihissalaam. Begitupula  Az-Zubair bin Awwam radhiyallaahu `anhu dari keturunan Nabi Ibrahim `alaihissalaam. Begitupula Thalhah bin `Ubaidillah radhiyallaahu `anhu adalah keturunan Nabi Ibrahim `alaihissalaam. Begitupula Abu Ubaidah ibnu Al-Jarah radhiyalaahu `anhu adalah keturunan Nabi Ibrahim `alaihissalaam. Begitupula `Abdullah bin `Abbas radhiyallaahu `anhu adalah keturunan Nabi Ibrahim `alaihissalaam.

Maka beliau semua radhiyallaahu `anhum adalah juga sebagai imam yang haq menurut kriteria surat Al-Baqarah ayat 124 ini. Apakah antum juga mengakui dan menerima ke-imam-an beliau semua radhiyallaahu `anhum??”

“Terima kasih atas jawabannya. Sayangnya, antum belum memberikan jawaban “ya” atau “tidak”, “benar” atau “salah” terhadap pertanyaan saya sebelumnya. Tapi baiklah, biar pertanyaan tersebut saya tunda dulu, dan sekarang saya akan mencoba menjawab pertanyaan antum.

Apakah Umar ibnu Khatab adalah seorang imam. Saya jawab, “Ya, beliau adalah imam bagi manusia. Jika benar beliau adalah orang yang shaleh dari keturunan Ibrahim.” Kata Ahmad.
 Umar agak berang. “Antum berbohong. Antum sedang bertaqiyah. Bagaimana dengan kawan-kawan antum yang sudah jelas-jelas menolak para sahabat seperti Umar dan Abu Bakar, walaupun keduanya adalah orang shaleh dari keturunan Ibrahim a.s ? dan itu pula mengapa kawan-kawan antum itu kami panggil sebagai rafidhah (kaum yang menolak).”

Ahmad membela diri, “saya tidak berbohong. Saya mengatakan yang sebenarnya bahwa saya mengakui Umar sebagai imam. Dengan suatu syarat, yaitu “jika benar beliau orang yang shaleh dari keturunan Ibrahim.”

Umar berkata, “Apakah antum meragukan keshalehan Umar r.a sebagaimana kaum rafidhah menganggapnya sebagai orang yang dzalim?”

“Tidak ada landasan dalil bagi kita untuk meragukan keshalehan Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Saya hanya tidak mengetahui, kalau Abu Bakar r.a adalah keturunan Ibrahim a.s. Baru dari antumlah saya memperoleh kabar bahwa Abu Bakar keturunan Ibrahim a.s. Apakah antum mengetahui silsilahnya?” jawab Ahmad.

Kemudian Umar menjelaskan nasab Abu Bakar yang bersambung hingga ke nabi Ibrahim a.s, “Nasab beliau adalah Abu Bakar bin Abi Quhafah bin `Amir bin `Amru bin Ka`b bin Sa`d bin Taim bin Murrah bin Ka`b bin Lu-ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma`ad bin `Adnan bin..........Natib bin Qaidar ibnu Isma`il bin Ibrahim Khalilullah shallallaahu `alaihi wa sallam. Dan silsilah nasab beliau radhiyallaahu `anhu bertemu dengan Nabi shallallaahu `alaihi wa sallam pada Murrah bin Ka`b bin Lu-ay.”
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Literasi Dunia
Designed by Master Logika Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top